Jumat, 21 Mei 2010

kep. ANAK (Miokarditis)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit jantung pada anak ada 2 macam, yaitu penyakit jantung bawaan dan penyakit jantung didapat. Kedua macam penyakit jantung ini dapat menyebabkan gagal jantung atau fungsi jantung yang menurun di mana jantung tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan metabolik jaringan tubuh.

Penyakit jantung bawaan (PJB) pada bayi dan anak cukup banyak ditemukan di Indonesia. Laporan dari berbagai penelitian di luar negeri menunjukkan 6-10 dari 1000 bayi lahir hidup menyandang penyakit jantung bawaan. Sampai saat ini belum jelas diketahui penyebab kelainan jantung bawaan.

Faktor yang mendasari patofisiologi dari gagal jantung adalah faktor mekanis (defek struktural yang memberikan beban berlebihan pada otot jantung), faktor miokard (miokarditis) dan kombinasi keduanya (kelainan intrinsik yang mengganggu faal miokard).

Miokarditis merupakan salah satu penyakit jantung didapat non-reumatik yang sering dijumpai selain endokarditis bakterialis dan difterika. Pada waktu infeksi terkena virus, infiltrasi sel-sel inflamatoris ke jantung dapat terjadi. Inflamasi pada miokard didefinisikan oleh Badan Kesehatan Dunia, World Health Organization (WHO), sebagai miokarditis. Sedangkan inflamasi miokard yang berkaitan dengan disfungsi jantung didefinisikan sebagai kardiomiopati inflamatoris. Proses inflamasi di jantung yang disebabkan oleh infeksi virus tidak hanya terbatas pada miokard, tetapi dapat juga melibatkan endokardium dan epikardium.

Salah satu miokarditis yang penting adalah miokarditis karena kuman difteria, yang disebut miokarditis difterika. Komplikasi jantung pada anak dengan difteria terdapat sekitar 10-20 persen dan 50 persen dari anak yang meninggal karena difteria disebabkan oleh komplikasi jantung. Komplikasi penyakit yang sangat berat ialah terjadinya kolaps sirkulasi yang terjadi pada minggu pertama. Sedangkan miokarditis umumnya timbul pada minggu kedua dan ketiga.

Makalah ini akan membahas tentang miokarditis yang disebabkan oleh cirus karena virus merupakan penyebab tersering miokarditis di Amerika dan Eropa.

1.2 Tujuan Penulisan

1.2.1 Tujuan umum

Mampu memahami asuhan keperawatan pada anak dengan gangguan sistem kardiovaskuler yaitu infeksi miokard atau miokarditis.

1.2.2 Tujuan khusus

1.2.2.1 Mampu memahami konsep medis infeksi miokard atau miokarditis.

1.2.2.2 Mampu memahami asuhan keperawatan pada anak dengan infeksi miokard atau miokarditis.

1.3 Metode Penulisan

Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode deskriptif yaitu dengan penjabaran masalah-masalah yang ada dan menggunakan studi kepustakaan dari literatur yang ada, baik di perpustakaan maupun di internet.

1.4 Sistematika Penulisan

BAB I : Pendahuluan

Memberikan gambaran awal dari makalah asuhan keperawatan yang berisikan: latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan, sistematika penulisan

BAB II : Tinjauan Teoritis

Teori-teori tentang penyakit infeksi miokard atau miokarditis pada anak yang diulas dalam dasar medik yaitu; Konsep dasar medik: Yang meliputi; definisi, anatomi dan fisiologi, etiologi, patofisiologi atau pathway, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostik, komplikasi, penatalaksanaan medik, pemeriksaan penunjang.

BAB III : Asuhan keperawatan

Membahas mengenai Pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi dan evaluasi keperawatan.

BAB IV : Penutup

Berisikan kesimpulan dan saran

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Pengertian

Miocardium lapisan medial dinding jantung yang terdiri atas jaringan otot jantung yang sangat khusus (Brooker, 2001).

Miocarditis adalah peradangan pada otot jantung atau miokardium. pada umumnya disebabkan oleh penyakit-penyakit infeksi, tetapi dapat sebagai akibat reaksi alergi terhadap obat-obatan dan efek toksin bahan-bahan kimia dan radiasi (FKUI, 1999).

Miocarditis adalah peradangan dinding otot jantung yang disebabkan oleh infeksi atau penyebab lain sampai yang tidak diketahui (idiopatik) (Dorland, 2002).

Miocarditis adalah inflamasi fokal atau menyebar dari otot jantung (miokardium) (Doenges, 1999).

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa miocarditis adalah peradangan/inflamasi otot jantung oleh berbagai penyebab terutama agen-agen infeksi.

2.2 Anatomi Fisiologi

Jantung merupakan organ utama dalam sistem kardiovaskuler. Ukuran jantung panjangnya kira-kira 12 cm, lebar 8-9 cm seta tebal kira-kira 6 cm. Berat jantung sekitar 7-15 ons atau 200 sampai 425 gram dan sedikit lebih besar dari kepalan tangan. Setiap harinya jantung berdetak 100.000 kali dan dalam masa periode itu jantung memompa 2000 galon darah atau setara dengan 7.571 liter darah. Posisi jantung terletak diantar kedua paru dan berada ditengah tengah dada, bertumpu pada diaphragma thoracis dan berada kira-kira 5 cm diatas processus xiphoideus. Dua pertiga jantung terletak di sebelah kiri garis midsternal. Jantung dilindungi mediastinum

Jantung dibungkus oleh membran perikardium. Perikardium adalah kantong berdinding ganda yang dapat membesar dan mengecil, membungkus jantung dan pembuluh darah besar. Kantong ini melekat pada diafragma, sternum dan pleura yang membungkus paru-paru. Perikardium terdiri atas tiga lapis. Lapisan luar adalah perikardium fibrosa. Dibawah perikardium fibrosa terdapat perikardium parietalis, suatu membran serosa. Lapisan yang terletak pada permukaan otot jantung dinamakan perikardium viseralis, yang juga disebut epikardium. Diantara membran perikardium parietalis dan viseralis terdapat cairan serosa, yang berfungsi mencegah gesekan pada saat jantung berdenyut.

Dinding Jantung terdiri dari tiga lapisan. Epikardium luar tersusun dari lapisan sel-sel mesotelial yang berada di atas jaringan ikat. Miokardium tengah terdiri dari jaringan otot jantung yang berkontraksi utnuk memompa darah. Kontraksi miokardium menekan darah keluar ruang menuju arteri besar. Endokardium dalam tersusun dari lapisan endotellial yang melapisi pembuluh darah yang memasuki dan meninggalkan jantung (Ethel, 2003: 229).

Mekanisme dasar kerja jantung :

a. Jantung adalah pompa yang berotot dengan empat ruang dan empat katup.

b. Ruang-ruang bagian atas, serambi (atrium) kanan dan serambi kiri (atria - bentuk jamak untuk atrium), adalah ruang-ruang pengisi yang berdinding tipis.

c. Darah mengalir dari atrium (serambi-serambi) kanan dan kiri melalui katup tricuspid dan mitral kedalam ruang-ruang yang lebih rendah yaitu ventricles (bilik-

bilik) kanan dan kiri.

d. Ventricles kanan dan kiri mempunyai dinding-dinding berotot yang tebal untuk memompa darah melaui klep-klep pulmonic dan aortic kedalam peredaran (sirkulasi).

e. Klep-klep jantung adalah kelopak-kelopak yang tipis dari jaringan yang membuka dan menutup pada saat yang tepat selama setiap siklus denyut jantung.

f. Fungsi utama dari klep-klep jantung ini adalah untuk mencegah darah mengalir balik kembali.

g. Darah bersirkulasi melalui arteri-arteri untuk menyediakan oksigen dan nutrisi-nutrisi lain ke tubuh, dan kemudian kembali dengan pembuangan karbondioksida melalui vena-vena ke atrium (serambi) kanan; ketika ventricles mengendur (relax), darah dari atrium kanan lewat melalui klep tricuspid kedalam ventricle (bilik) kanan.

h. Ketika ventricles berkontraksi, darah dari bilik (ventricle) kanan dipompa melalui klep pulmonic kedalam paru-paru untuk mengisi kembali oksigen dan mengeluarkan karbondioksida.

i. Darah yang mengandung oksigen kemudian kembali ke atrium kiri dan lewat melalui klep mitral kedalam ventricle (bilik) kiri.

j. Darah dipompa oleh ventricle kiri melaui klep aortic kedalam aorta dan arteri-arteri tubuh.

2.3 Etiologi Dan Klasifikasi

a. Acute isolated myocarditis adalah miokarditis interstitial acute dengan etiologi tidak diketahui dan Bacterial myocarditis adalah miokarditis yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Chronic myocarditis adalah penyakit radang miokardial kronik.

b. Diphtheritic myocarditis adalah mikarditis yang disebabkan oleh toksin bakteri yang dihasilkan pada difteri : lesi primer bersifat degeneratiff dan nekrotik dengan respons radang sekunder.

c. Fibras myocarditis adalah fibrosis fokal/difus mikardial yang disebabkan oleh peradangan kronik.

d. Giant cell myocarditis adalah subtype miokarditis akut terisolasi yang ditandai dengan adanya sel raksasa multinukleus dan sel-sel radang lain, termasuk limfosit, sel plasma dan makrofag dan oleh dilatasi ventikel, trombi mural, dan daerah nekrosis yang tersebar luas.

e. Hypersensitivity myocarditis adalah mikarditis yang disebabkan reaksi alergi yang disebabkan oleh hipersensitivitas terhadap berbagai obat, terutama sulfonamide, penicillin, dan metildopa.

f. Infection myocarditis adalah disebabkan oleh agen infeksius ; termasuk bakteri, virus, riketsia, protozoa, spirochaeta, dan fungus. Agen tersebut dapat merusak miokardium melalui infeksi langsung, produksi toksin, atau perantara respons immunologis.

g. Interstitial myocarditis adalah mikarditis yang mengenai jaringan ikat interstitial.

h. Parenchymatus myocarditis adalah miokarditis yang terutama mengenai substansi ototnya sendiri.

i. Protozoa myocarditis adalah miokarditis yang disebabkan oleh protozoa terutama terjadi pada penyakit Chagas dan toxoplasmosis.

j. Rheumatic myocarditis adalah gejala sisa yang umum pada demam reumatik.

k. Rickettsial myocarditis adalah mikarditis yang berhubungan dengan infeksi riketsia.

l. Toxic myocarditis adalah degenerasi dan necrosis fokal serabut miokardium yang disebabkan oleh obat, bahan kimia, bahan fisik, seperti radiasi hewan/toksin serangga atau bahan/keadaan lain yang menyebabkan trauma pada miokardium.

m. Tuberculosis myocarditis adalah peradangan granulumatosa miokardium pada tuberkulosa.

n. Viral myocarditis disebabkan oleh infeksi virus terutama oleh enterovirus ; paling sering terjadi pada bayi, wanita hamil, dan pada pasien dengan tanggap immune rendah (Dorland, 2002).


2.5 Manifestasi Klinis

a. Letih, napas pendek

b. Detak jantung tidak teratur

c. Demam

d. Gejala-gejala lain karena gangguan yang mendasarinya (Griffith, 1994)

e. Menggigil

f. Anoreksia

g. Nyeri dada

h. Dispnea dan disritmia.

i. Tamponade ferikardial/kompresi (pada efusi perikardial) (DEPKES, 1993).

2.6 Komplikasi

a. Kardiomiopati kongestif disebut juga dengan nama Dilated Cardiomyopathy (A.H Markum, dkk). Bentuk kardiomiopati ini digolongkan berdasarkan patologi, fisiologi dan tanda klinisnya. Penyakit ini ditandai dengan adanya dilatasi atau pembesaran rongga ventrikel bersama dengan adanya penipisan dinding otot, pembesaran atrium kiri dan stasis darah dalam ventrikel. (Susanne, C Smelzer, 2002)

b. Payah jantung kongestif adalah kegagalan jantung dalam upaya untuk mempertahankan peredaran darah sesuai dengan kebutuhan tubuh

c. Efusi pericardial adalah akumulasi kelebihan cairan di sekitar jantung

d. AV block total

e. Trombi Kardiac (FKUI, 1999).

2.7 Pemeriksaan Penunjang

a. Laboratorium : leukosit, LED, limfosit, LDH

b. Elektrokardiografi

c. Rontgen thorax

d. Ekokardiografi

e. Biopsi endomiokardial (FKUI, 1999).

2.8 Penatalaksanaan

a. Perawatan untuk tindakan observasi

b. Tirah baring/pembatasan aktivitas

c. Antibiotik atau kemoterapeutik

d. Pengobatan sistemik supportif ditujukan pada penyakti infeksi sistemik (FKUI, 1999)

e. Obat kortison

f. Jika berkembang menjadi gagal jantung kongestif : diuretik untuk mengurangi retensi ciaran ; digitalis untuk merangsang detak jantung ; obat antibeku untuk mencegah pembentukan bekuan (Griffith, 1994).


BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian

Pengkajian pasien myocarditis (Marilynn E. Doenges, 1999) meliputi :

a. Aktivitas / istirahat

Gejala : kelelahan, kelemahan.

Tanda : takikardia, penurunan tekanan darah, dispnea dengan aktivitas.

b. Sirkulasi

Gejala : riwayat demam rematik, penyakit jantung congenital, bedah jantung,

palpitasi, jatuh pingsan.

Tanda : takikardia, disritmia, perpindaha titik impuls maksimal, kardiomegali,

frivtion rub, murmur, irama gallop (S3 dan S4), edema, DVJ, petekie,

hemoragi splinter, nodus osler, lesi Janeway.

c. Eliminasi

Gejala : riwayat penyakit ginjal/gagal ginjal ; penurunan frekuensi/jumlsh urine.

Tanda : urin pekat gelap.

d. Nyeri/ketidaknyamanan

Gejala : nyeri pada dada anterior (sedang sampai berat/tajam) diperberat oleh

inspirasi, batuk, gerakkan menelan, berbaring.

Tanda : perilaku distraksi, misalnya gelisah.

e. Pernapasan

Gejala : napas pendek, napas pendek kronis memburuk pada malam hari

(miokarditis).

Tanda : dispnea, DNP (dispnea nocturnal paroxismal), batuk, inspirasi mengi,

takipnea, krekels, dan ronkhi, pernapasan dangkal.

f. Keamanan

Gejala : riwayat infeksi virus, bakteri, jamur (miokarditis ; trauma dada ;

penyakit keganasan/iradiasi thorakal ; dalam penanganan gigi ;

pemeriksaan endoskopik terhadap sitem GI/GU), penurunan immune,

Tanda : demam.

g. Penyuluhan / Pembelajaran

Gejala : terapi intravena jangka panjang atau pengguanaan kateter indwelling

atau penyalahgunaan obat parenteral.

3.2 Diagnosa Keperawatan

a. Nyeri berhubungan dengan inflamasi miokardium, efek-efek sistemik dari infeksi, iskemia jaringan.

b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan inflamasi dan degenerasi sel-sel otot miokard, penurunan curah jantung.

c. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan degenerasi otot jantung, penurunan/kontriksi fungsi ventrikel.

d. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, rencana pengobatan berhubungan dengan kurang pengetahuan/daya ingat, mis- intepretasi informasi, keterbatasan kognitif, menyangkal diagnosa.

3.3 Intervensi Keperawatan

No.

Diagnosa

Tujuan/

Kriteria Hasil

Intervensi

Rasional

1.

Nyeri berhubungan dengan inflamasi miokardium, efek-efek sistemik dari infeksi, iskemia jaringan.

Tujuan :

Nyeri hilang atau terkontrol.

Kriteria Hasil :

a. Nyeri berkurang atau hilang

b. Klien tampak tenang.

1. Selidiki keluhan nyeri dada, perhatikan awitan dan faktor pemberat atau penurun. Perhatikan petunjuk nonverbal dari ketidaknyamanan, misalnya ; berbaring dengan diam/gelisah, tegangan otot, menangis.

2. Berikan lingkungan yang tenang dan tindakan kenyamanan misalnya ; perubahan posisi, gosokkan punggung, penggunaan kompres hangat/dingin, dukungan emosional.

3. Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai indikasi (agen nonsteroid : aspirin, indocin ; antipiretik ; steroid).

4. Kolaborasi pemberian oksigen suplemen sesuai indikasi.

1. Pada nyeri ini memburuk pada inspirasi dalam, gerakkan atau berbaring dan hilang dengan duduk tegak/membungkuk.

2. Tindakan ini dapat menurunkan ketidaknyamanan fisik dan emosional pasien.

3. Dapat menghilangkan nyeri, menurunkan respons inflamasi, menurunkan demam ; steroid diberikan untuk gejala yang lebih berat.

4. Memaksimalkan ketersediaan oksigen untuk menurunkan beban kerja jantung.

2.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan inflamasi dan degenerasi sel-sel otot miokard, penurunan curah jantung.

Tujuan :

pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas.

Kriteria hasil :

a. perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri.

b. Pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa dibantu.

c. Koordinasi otot, tulang dan anggota gerak lainya baik.

1. Kaji respons pasien terhadap aktivitas. Perhatikan adanya perubahan dan keluhan kelemahan, keletiahan, dan dispnea berkenaan dengan aktivitas.

2. Pantau frekuensi/irama jantung, TD, dan frekuensi pernapasan sebelum dan setelah aktivitas dan selama diperlukan.

3. Pertahankan tirah baring selama periode demam dan sesuai indikasi.

4. Rencanakan perawatan dengan periode istirahat/tidur tanpa gangguan.

5. Bantu pasien dalam program latihan progresif bertahap sesegera mungkin untuk turun dari tempat tidur, mencatat respons tanda vital dan toleransi pasien pada peningkatan aktivitas.

6. Kolaborasi pemberian oksigen suplemen sesuai indikasi.

1. miokarditis menyebabkan inflamasi dan kemungkinan kerusakan fungsi sel-sel miokardial.

membantu menentukan derajat dekompensasi jantung dan pulmonal.

2. Penurunan TD, takikardia, disritmia, dan takipnea adalah indikatif dari kerusakan toleransi jantung terhadap aktivitas.

3. Meningkatkan resolusi inflamasi selama fase akut.

4. Memberikan keseimbangan dalam kebutuhan dimana aktivitas bertumpu pada jantung.

5. Saat inflamasi/ kondisi dasar teratasi, pasien mungkin mampu melakukan aktivitas yang diinginkan, kecuali kerusakan miokard permanen/terjadi komplikasi.

6. Memaksimalkan ketersediaan oksigen untuk menurunkan beban kerja jantung

3.

Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan degenerasi otot jantung, penurunan/kontriksi fungsi ventrikel.

Tujuan :

Mengidentifikasi perilaku untuk menurunkan beban kerja jantung.

Kriteria Hasil :

a. Melaporkan/menunjukkan penurunan periode dispnea, angina, dan disritmia.

b. Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil.

1. Pantau frekuensi/irama jantung, TD, dan frekuensi pernapasan sebelum dan setelah aktivitas dan selama diperlukan.

2. Pertahankan tirah baring dalam posisi semi-Fowler.

3. Auskultasi bunyi jantung. Perhatikan jarak/muffled tonus jantung, murmur, gallop S3 dan S4.

4. Berikan tindakan kenyamanan misalnya ; perubahan posisi, gosokkan punggung, dan aktivitas hiburan dalam tolerransi jantung.

1. Membantu menentukan derajat dekompensasi jantung dan pulmonal. Penurunan TD, takikardia, disritmia, dan takipnea adalah indikatif dari kerusakan toleransi jantung terhadap aktivitas.

2. Menurunkan beban kerja jantung, memaksimalkan curah jantung.

3. Memberikan deteksi dini dari terjadinya komplikasi misalnya : GJK, tamponade jantung.

4. Meningkatkan relaksasi dan mengarahkan kembali perhatian.

4.

Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, rencana pengobatan berhubungan dengan kurang pengetahuan/daya ingat, mis- intepretasi informasi, keterbatasan kognitif, menyangkal diagnosa.

Tujuan :

Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regimen pengobatan.

Kriteria hasil :

a. Mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan komplikasi yang perlu diperhatikan.

b. Memperlihatan perubahan perilaku untuk mencegah komplikasi.

1. Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar termasuk orang terdekat.

2. Jelaskan efek inflamasi pada jantung, secara individual pada pasien. Ajarakkn untuk memperhatikan gejala sehubungan dengan komplikasi/berulangnya dan gejala yang dilaporkan dengan segera pada pemberi perawatan, contoh ; demam, peningkatan nyeri dada yang tak biasanya, peningkatan berat badan, peningkatan toleransi terhadap aktivitas.

3. Anjurkan pasien/orang terdekat tentang dosis, tujuan dan efek samping obat; kebutuhan diet ; pertimbangan khusus ; aktivitas yang diijinkan/dibatasi.

4. Kaji ulang perlunya antibiotic jangka panjang/terapy antimicrobial.

1. Perasaan sejahtera yang sudah lama dinikmati mempengaruhi minat pasien/orang terdekat untuk mempelajari penyakit.

2. Untuk bertanggung jawab terhadap kesehatan sendiri, pasien perlu memahami penyebab khusus, pengobatan dan efek jangka panjang yang diharapkan dari kondisi inflamasi, sesuai dengan tanda/gejala yang menunjukan kekambuhan/komplikasi.

3. Informasi perlu untuk meningkatkan perawatan diri, peningkatan keterlibatan pada program terapeutik, mencegah komplikasi.

4. Perawatan di rumah sakit/pemberian antibiotic IV/antimicrobial perlu sampai kultur darah negative/hasil darah lain menunjukkan tak ada infeksi.

3.4 Implementasi Keperawatan

Implementasi adalah tahap pelaksananan terhadap rencana tindakan keperawatan yang telah ditetapkan untuk perawat bersama pasien. Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi, disamping itu juga dibutuhkan ketrampilan interpersonal, intelektual, teknikal yang dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat dengan selalu memperhatikan keamanan fisik dan psikologis. Setelah selesai implementasi, dilakukan dokumentasi yang meliputi intervensi yang sudah dilakukan dan bagaimana respon pasien.

3.5 Evaluasi Keperawatan

Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan. Kegiatan evaluasi ini adalah membandingkan hasil yang telah dicapai setelah implementasi keperawatan dengan tujuan yang diharapkan dalam perencanaan.

Perawat mempunyai tiga alternatif dalam menentukan sejauh mana tujuan tercapai:

1. Berhasil : perilaku pasien sesuai pernyatan tujuan dalam waktu

atau tanggal yang ditetapkan di tujuan.

2. Tercapai sebagian : pasien menunujukan prilaku tetapi tidak sebaik yang

ditentukan dalam pernyataan tujuan.

3. Belum tercapai. : pasien tidak mampu sama sekali menunjukkan

perilaku yang diharapakan sesuai dengan pernyataan

tujuan.

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Penyakit jantung pada anak ada 2 macam, yaitu penyakit jantung bawaan dan penyakit jantung didapat. Kedua macam penyakit jantung ini dapat menyebabkan gagal jantung atau fungsi jantung yang menurun di mana jantung tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan metabolik jaringan tubuh. Miokarditis merupakan salah satu penyakit jantung didapat non-reumatik yang sering dijumpai

Miokarditis adalah peradangan pada otot jantung atau miokardium. pada umumnya disebabkan oleh penyakit-penyakit infeksi, tetapi dapat sebagai akibat reaksi alergi terhadap obat-obatan dan efek toksin bahan-bahan kimia dan radiasi (FKUI, 1999).

Komplikasi yang dapat timbul adalah kardiomiopati kongestif/dilated, payah jantung kongestif, efusi perikardial, AV block total.

Manifestasi klinis adalah letih, napas pendek, detak jantung tidak teratur, demam, Gejala-gejala lain karena gangguan yang mendasarinya, menggigil, anoreksia, nyeri dada, Dispnea dan disritmia, perawatan untuk tindakan observasi, tirah baring/pembatasan aktivitas, Antibiotik atau kemoterapeutik.

4.2 Saran

Dari kesimpulan diatas maka penulis mengambil kesimpulan bahwa :

1. Dalam memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan demam reumatik, perawat harus memahami konsep dasar asuhan keperawatan demam reumatik sehingga asuhan keperawatan dapat terlaksana dengan baik.

2. Dalam melakukan tindakan keperawatan harus melibatkan pasien dan keluarganya serta tim kesehatan lainnya. Sehingga data yang diperoleh sesuai dengan tindakan yang dilakukan.

3. Dalam melakukan tindakan keperawatan disarankan untuk mengevaluasi tindakan tersebut secara terus menerus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar