Senin, 25 April 2011

Kep. gadar (NYERI DADA)


ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA KLIEN DENGAN

NYERI DADA

A. PENGERTIAN

· Nyeri dada adalah perasaan nyeri / tidak enak yang mengganggu daerah dada dan seringkali merupakan rasa nyeri yang diproyeksikan pada dinding dada (referred pain)

· Nyeri Coroner adalah rasa sakit akibat terjadinya iskemik miokard karena suplai aliran darah koroner yang pada suatu saat tidak mencukupi untuk kebutuhan metabolisme miokard.

· Nyeri dada akibat penyakit paru misalnya radang pleura (pleuritis) karena lapisan paru saja yang bisa merupakan sumber rasa sakit, sedang pleura viseralis dan parenkim paru tidak menimbulkan rasa sakit (Himawan, 1996)

B. ETIOLOGI

Nyeri Dada:

a. Cardial

- Koroner

- Non Koroner

b. Non Cardial

- Pleural

- Gastrointestinal

- Neural

- Psikogenik (Abdurrahman N, 1999)

C. TANDA DAN GEJALA

Tanda dan gejala yang biasa menyertai nyeri dada adalah :

- Nyeri ulu hati

- Sakit kepala

- Nyeri yang diproyeksikan ke lengan, leher, punggung

- Diaforesis / keringat dingin

- Sesak nafas

- Takikardi

- Kulit pucat

- Sulit tidur (insomnia)

- Mual, Muntah, Anoreksia

- Cemas, gelisah, fokus pada diri sendiri

- Kelemahan

- Wajah tegang, m erintih, menangis

- Perubahan kesadaran

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. EKG 12 lead selama episode nyeri

- Takhikardi / disritmia

- Rekam EKG lengkap : T inverted, ST elevasi / depresi, Q Patologis

b. Laboratorium

- Kadar enzim jantung : CK, CKMB, LDH

- Fungsi hati : SGOT, SGPT

- Fungsi Ginjal : Ureum, Creatinin

- Profil Lipid : LDL, HDL

c. Foto Thorax

d. Echocardiografi

e. Kateterisasi jantung


A. PENGKAJIAN

1. Pengkajian Primer

a. Airway

- Bagaimana kepatenan jalan nafas

- Apakah ada sumbatan / penumpukan sekret di jalan nafas?

- Bagaimana bunyi nafasnya, apakah ada bunyi nafas tambahan?

b. Breathing

- Bagaimana pola nafasnya ? Frekuensinya? Kedalaman dan iramanya?

- Aapakah menggunakan otot bantu pernafasan?

- Apakah ada bunyi nafas tambahan?

c. Circulation

- Bagaimana dengan nadi perifer dan nadi karotis? Kualitas (isi dan tegangan)

- Bagaimana Capillary refillnya, apakah ada akral dingin, sianosis atau oliguri?

- Apakah ada penurunan kesadaran?

- Bagaimana tanda-tanda vitalnya ? T, S, N, RR, HR?

2. Pengkajian Sekunder

Hal-hal penting yang perlu dikaji lebih jauh pada nyeri dada (koroner) :

a. Lokasi nyeri

Dimana tempat mulainya, penjalarannya (nyeri dada koroner : mulai dari sternal menjalar ke leher, dagu atau bahu sampai lengan kiri bagian ulna)

b. Sifat nyeri

Perasaan penuh, rasa berat seperti kejang, meremas, menusuk, mencekik/rasa terbakar, dll.

c. Ciri rasa nyeri

Derajat nyeri, lamanya, berapa kali timbul dalam jangka waktu tertentu.

d. Kronologis nyeri

Awal timbul nyeri serta perkembangannya secara berurutan

e. Keadaan pada waktu serangan

Apakah timbul pada saat-saat / kondisi tertentu

f. Faktor yang memperkuat / meringankan rasa nyeri misalnya sikap/posisi tubuh, pergerakan, tekanan, dll.

g. Gejala lain yang mungkin ada atau tidaknya hubungan dengan nyeri dada.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Perubahan kenyamanan nyeri (nyeri akut) b.d iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri, inflamasi jaringan

2. Perubahan perfusi jaringan (otot jantung) b.d penurunan aliran darah

3. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai O2 dan kebutuhan metabolisme jaringan

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

Prinsip-prinsip Tindakan :

1. Tirah baring (bedrest) dengan posisi fowler / semi fowler

2. Melakukan EKG 12 lead kalau perlu 24 lead

3. Mengobservasi tanda-tanda vital

4. Kolaborasi pemberian O2 dan pemberian obat-obat analgesik, penenang, nitrogliserin, Calcium antagonis dan observasi efek samping obat.

5. Memasang infus dan memberi ketenangan pada klien

6. Mengambil sampel darah

7. Mengurangi rangsang lingkungan

8. Bersikap tenang dalam bekerja

9. Mengobservasi tanda-tanda komplikasi

DAFTAR PUSTAKA

1. Abdurrahman, N, Anamnesa dan pemeriksaan Jasmani Sistem Kardiovaskuler dalam IPD Jilid I, Jakarta: FKUI, 1999.

2. Doenges, Marilynn E,Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC, 2000.

3. Himawan, Buku Kuliah Gangguan Sistem Kardiovaskuler,1994.

4. Hudak&Gallo, Keperawatan Kritis cetakan I, Jakarta : EGC, 1995

Kep. gadar (BANTUAN VENTILASI MEKANIK)


LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN

DENGAN GAGAL NAFAS

(BANTUAN VENTILASI MEKANIK)

A. Pengertian

Kegagalan pernafasan adalah pertukaran gas yang tidak adekuat sehingga terjadi hipoksia, hiperkapnia (peningkatan konsentrasi karbon dioksida arteri), dan asidosis.

Ventilator adalah suatu alat yang digunakan untuk membantu sebagian atau seluruh proses ventilasi untuk mempetahankan oksigenasi.

B. Penyebab gagal nafas

  1. Penyebab sentral
    1. Trauma kepala : contusio cerebri
    2. Radang otak : encephalitis
    3. Gangguan vaskuler : perdarahan otak , infark otak
    4. Obat-obatan : narkotika, anestesi
  2. Penyebab perifer
    1. Kelainan neuromuskuler : GBS, tetanus, trauma cervical, muscle relaxans
    2. Kelainan jalan nafas : obstruksi jalan nafas, asma bronchiale
    3. Kelainan di paru : edema paru, atelektasis, ARDS
    4. Kelainan tulang iga/thoraks: fraktur costae, pneumo thorax, haematothoraks
    5. Kelainan jantung : kegagalan jantung kiri

C. Patofisiologi

Pada pernafasan spontan inspirasi terjadi karena diafragma dan otot intercostalis berkontraksi, rongga dada mengembang dan terjadi tekanan negatif sehingga aliran udara masuk ke paru, sedangkan fase ekspirasi berjalan secara pasif .

Pada pernafasan dengan ventilasi mekanik, ventilator mengirimkan udara dengan memompakan ke paru pasien, sehingga tekanan selama inspirasi adalah positif dan menyebabkan tekanan intra thorakal meningkat. Pada akhir inspirasi tekanan dalam rongga thoraks paling positif.

A. Pemeriksaan Fisik

( Menurut pengumpulan data dasar oleh Doengoes)

1. Sirkulasi

Tanda : Takikardia, irama ireguler

S3S4/Irama gallop

Daerah PMI bergeser ke daerah mediastinal

Hamman’s sign (bynui udara beriringan dengan denyut jantung menandakan udara di mediastinum)

TD : hipertensi/hipotensi

2. Nyeri/Kenyamanan

Gejala : nyeri pada satu sisi, nyeri tajam saat napas dalam, dapat menjalar ke leher, bahu dan abdomen, serangan tiba-tiba saat batuk

Tanda : Melindungi bagian nyeri, perilaku distraksi, ekspresi meringis

3. Pernapasan

Gejala : riwayat trauma dada, penyakit paru kronis, inflamasi paru , keganasan, “lapar udara”, batuk

Tanda : takipnea, peningkatan kerja pernapasan, penggunaan otot asesori, penurunan bunyi napas, penurunan fremitus vokal, perkusi : hiperesonan di atas area berisi udara (pneumotorak), dullnes di area berisi cairan (hemotorak); perkusi : pergerakan dada tidak seimbang, reduksi ekskursi thorak. Kulit : cyanosis, pucat, krepitasi sub kutan; mental: cemas, gelisah, bingung, stupor

4. Keamanan

Gejala : riwayat terjadi fraktur, keganasan paru, riwayat radiasi/kemoterapi

5. Penyuluhan/pembelajaran

Gejala : riwayat faktor resiko keluarga dengan tuberkulosis, kanker

B. Pemeriksaan Diagnostik

- Hb : dibawah 12 gr %

- Analisa gas darah :

Ø pH dibawah 7,35 atau di atas 7,45

Ø paO2 di bawah 80 atau di atas 100 mmHg

Ø pCO2 di bawah 35 atau di atas 45 mmHg

Ø BE di bawah -2 atau di atas +2

- Saturasi O2 kurang dari 90 %

- Ro” : terdapat gambaran akumulasi udara/cairan , dapat terlihat perpindahan letak mediastinum

C. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan pernafasan ventilator mekanik adalah :

1.Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret

  1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan sekresi tertahan, proses penyakit
  2. Ketidakefektifan pola nafas berhubungandengan kelelahan, pengesetan ventilator yang tidak tepat, obstruksi selang ETT
  3. Cemas berhubungan dengan penyakti kritis, takut terhadap kematian
  4. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan pemasangan selang ETT
  5. Resiko tinggi komplikasi infeksi saluran nafas berhubungan dengan pemasangan selang ETT
  6. Resiko tinggi sedera berhubungan dengan penggunaan ventilasi mekanik, selang ETT, ansietas, stress
  7. Nyeri berhubungan dengan penggunaan ventilasi mekanik, letak selang ETT

D. Rencana Keperawatan

  1. Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret

Tujuan : Klien akan memperlihatkan kemampuan meningkatkan dan mempertahankan keefektifan jalan nafas

Kriteria hasil :

- Bunyi nafas bersih

- Ronchi (-)

- Tracheal tube bebas sumbatan

Intervensi

Rasional

1.Auskultasi bunyi nafas tiap 2-4 jam atau bila diperlukan

2.Lakukan penghisapan bila terdengar ronchi dengan cara :

a.Jelaskan pada klien tentang tujuan dari tindakan penghisapan

b.Berikan oksigenasi dengan O2 100 % sebelum dilakukan penghisapan, minimal 4 – 5 x pernafasan

c.Perhatikan teknik aseptik, gunakan sarung tangan steril, kateter penghisap steril

d.Masukkan kateter ke dalam selang ETT dalam keadaan tidak menghisap, lama penghisapan tidak lebih 10 detik

e.Atur tekana penghisap tidak lebih 100-120 mmHg

f.Lakukan oksigenasi lagi dengan O2 100% sebelum melakukan penghisapan berikutnya

g.Lakukan penghisapan berulang-ulang sampai suara nafas bersih

3.Pertahankan suhu humidifier tetap hangat ( 35 – 37,8 C)

Mengevaluasi keefektifan bersihan jalan nafas

Meningkatkan pengertian sehingga memudahkan klien berpartisipasi

Memberi cadangan oksigen untuk menghindari hypoxia

Mencegah infeksi nosokomial

Aspirasi lama dapat menyebabkan hypoksiakarena tindakan penghisapan akan mengeluarkan sekret dan oksigen

Tekana negatif yang berlebihan dapat merusak mukosa jalan nafas

Memberikan cadangan oksigen dalam paru

Menjamin kefektifan jalan nafas

Membantu mengencerkan sekret

2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan sekresi tertahan,proses penyakit, pengesetan ventilator yang tidak tepat

Tujuan : Klien akan memperlihatkan kemampuan pertukaran gas yang kembali normal

Kriteria hasil :

- Hasil analisa gas darah normal :

Ø PH (7,35 – 7,45)

Ø PO2 (80 – 100 mmHg)

Ø PCO2 ( 35 – 45 mmHg)

Ø BE ( -2 - +2)

- Tidak cyanosis

Intervensi

Rasional

1.Cek analisa gas darah setiap 10 –30 mnt setelah perubahan setting ventilator

2.Monitor hasil analisa gas darah atau oksimetri selama periode penyapihan

3.Pertahankan jalan nafas bebas dari sekresi

4.Monitpr tanda dan gejala hipoksia

Evaluasi keefektifan setting ventilator yang diberikan

Evaluasi kemampuan bernafas klien

Sekresi menghambat kelancaran udara nafas

Deteksi dini adanya kelainan

  1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan kelelahan, pengesetan ventilator yang tidak tepat, peningkatan sekresi, obstruksi ETT

Tujuan : Klien akan mempertahankan pola nafas yang efektif

Kriteria hasil :

  1. Nafas sesuai dengan irama ventilator
  2. Volume nafas adekuat
  3. Alarm tidak berbunyi

Intervensi

Rasional

1.Lakukan pemeriksaan ventilator tiap 1-2 jam

2.Evaluasi semua alarm dan tentukan penyebabnya

3.Pertahankan alat resusitasi manual (bag & mask) pada posisi tempat tidur sepanjang waktu

4.Monitor slang/cubbing ventilator dari terlepas, terlipat, bocor atau tersumbat

5.Evaluasi tekanan atau kebocoran balon cuff

6.Masukkan penahan gigi (pada pemasangan ETT lewat oral)

7.Amankan slang ETT dengan fiksasi yang baik

8.Monitor suara nafas dan pergerakan ada secara teratur

Deteksi dini adanya kelainan atau gangguan fungsi ventilator

Bunyi alarm menunjukkan adanya gangguan fungsi ventilator

Mempermudah melakukan pertolongan bila sewaktu-waktu ada gangguan fungsi ventilator

Mencegah berkurangnya aliran udara nafas

Mencegah berkurangnya aliran udara nafas

Mencegah tergigitnya slang ETT

Mencegah terlepasnya.tercabutnya slang ETT

Evaluasi keefektifan pola nafas

I. Daftar Pustaka

Carpenito, Lynda Juall (2000), Buku saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, EGC, Jakarta

Corwin, Elizabeth J, (2001), Buku saku Patofisiologi, Edisi bahasa Indonesia, EGC, Jakarta

Doengoes, E. Marilyn (1989), Nursing Care Plans, Second Edition, FA Davis, Philadelphia

Suprihatin, Titin (2000), Bahan Kuliah Keperawatan Gawat Darurat PSIK Angkatan I, Universitas Airlangga, Surabaya

Kep. gadar (HIPOGLIKEMIA)


LAPORAN PENDAHULUAN

HIPOGLIKEMIA

A. Pengertian

Hipoglikemi adalah suatu keadaan, dimana kadar gula darah plasma puasa kurang dari 50 mg/%.

Populasi yang memiliki resiko tinggi mengalami hipoglikemi adalah:

- Diabetes melitus

- Parenteral nutrition

- Sepsis

- Enteral feeding

- Corticosteroid therapi

- Bayi dengan ibu dengan diabetik

- Bayi dengan kecil masa kehamilan

- Bayi dengan ibu yang ketergantungan narkotika

- Luka bakar

- Kanker pankreas

- Penyakit Addison’s

- Hiperfungsi kelenjar adrenal

- Penyakit hati

Type hipoglikemi digolongkan menjadi beberapa jenis yakni:

- Transisi dini neonatus ( early transitional neonatal ) : ukuran bayi yang besar ataupun normal yang mengalami kerusakan sistem produksi pankreas sehingga terjadi hiperinsulin.

- Hipoglikemi klasik sementara (Classic transient neonatal) : tarjadi jika bayi mengalami malnutrisi sehingga mengalami kekurangan cadangan lemak dan glikogen.

- Sekunder (Scondary) : sebagai suatu respon stress dari neonatus sehingga terjadi peningkatan metabolisme yang memerlukan banyak cadangan glikogen.

- Berulang ( Recurrent) : disebabkan oleh adanya kerusakan enzimatis, atau metabolisme insulin terganggu.

A. Fokus Pengkajian

Data dasar yang perlu dikaji adalah :

1. Keluhan utama : sering tidak jelas tetapi bisanya simptomatis, dan lebih sering hipoglikemi merupakan diagnose sekunder yang menyertai keluhan lain sebelumnya seperti asfiksia, kejang, sepsis.

2. Riwayat :

- ANC

- Perinatal

- Post natal

- Imunisasi

- Diabetes melitus pada orang tua/ keluarga

- Pemakaian parenteral nutrition

- Sepsis

- Enteral feeding

- Pemakaian Corticosteroid therapi

- Ibu yang memakai atau ketergantungan narkotika

- Kanker

3. Data fokus

Data Subyektif:

- Sering masuk dengan keluhan yang tidak jelas

- Keluarga mengeluh bayinya keluar banyaj keringat dingin

- Rasa lapar (bayi sering nangis)

- Nyeri kepala

- Sering menguap

- Irritabel

Data obyektif:

- Parestisia pada bibir dan jari, gelisah, gugup, tremor, kejang, kaku,

- Hight—pitched cry, lemas, apatis, bingung, cyanosis, apnea, nafas cepat irreguler, keringat dingin, mata berputar-putar, menolak makan dan koma

- Plasma glukosa < 50 gr/%

B. Diagnose dan Rencana Keperawatan

1. Resiko komplikasi berhubungan dengan kadar glukosa plasma yang rendah seperti, gangguan mental, gangguan perkembangan otak, gangguan fungsi saraf otonom, koma hipoglikemi

Rencana tindakan:

- Cek serum glukosa sebelum dan setelah makan

- Monitor : kadar glukosa, pucat, keringat dingin, kulit yang lembab

- Monitor vital sign

- Monitor kesadaran

- Monitor tanda gugup, irritabilitas

- Lakukan pemberian susu manis peroral 20 cc X 12

- Analisis kondisi lingkungan yang berpotensi menimbulkan hipoglikemi.

- Cek BB setiap hari

- Cek tanda-tanda infeksi

- Hindari terjadinya hipotermi

- Lakukan kolaborasi pemberian Dex 15 % IV

- Lakukan kolaborasi pemberian O2 1 lt – 2 lt /menit

2. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh

Rencana tindakan:

- Lakukan prosedur perawatan tangan sebelum dan setelah tindakan

- Pastikan setiap benda yang dipakai kontak dengan bayi dalam keadaan bersih atau steril

- Cegah kontak dengan petugas atau pihak lain yang menderita infeksi saluran nafas.

- Perhatikan kondisi feces bayi

- Anjurkan keluarga agar mengikuti prosedur septik aseptik.

- Berikan antibiotik sebagai profolaksis sesuai dengan order.

- Lakukan pemeriksaan DL, UL, FL secara teratur.

3. Resiko Ggn Keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan peningkatan pengeluaran keringat

- Cek intake dan output

- Berikan cairan sesuai dengan kebutuhan bayi /kg BB/24 jam

- Cek turgor kulit bayi

- Kaji intoleransi minum bayi

- Jika mengisap sudah baik anjurkan pemberian ASI

4. Keterbatasan gerak dan aktivitas berhubungan dengan hipoglikemi pada otot

- Bantu pemenihan kebutuhan sehari-hari

- Lakukan fisiotherapi

- Ganti pakaian bayi secara teratur dan atau jika kotor dan basah.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito (1997), L.J Nursing Diagnosis, Lippincott , New York

Marino (1991), ICU Book, Lea & Febiger, London

Nelson (1993), Ilmu Kesehatan Anak, EGC, Jakarta

Suparman (1988), Ilmu Penyakit Dalam , Universitas Indonesia, Jakarta.

Wong and Whaley (1996) Peiatric Nursing ; Clinical Manual, Morsby, Philadelpia