Kamis, 14 Oktober 2010

Hipoglikemia atau Hypoglycemic

Hipoglikemia adalah suatu keadaan dimana kadar gula darah (glukosa) secara abnormal rendah. Dalam keadaan normal, tubuh mempertahankan kadar gula darah antara 70-110 mg/dL. Sementara pada penderita diabetes, kadar gula darahnya tersebut berada pada tingkat terlalu tinggi; dan pada penderita hipoglikemia, kadar gula darahnya berada pada tingkat terlalu rendah.

Kadar gula darah yang rendah menyebabkan berbagai sistem organ tubuh mengalami kelainan fungsi. Otak merupakan organ yang sangat peka terhdap kadar gula darah yang rendah karena glukosa merupakan sumber energi otak yang utama. Otak memberikan respon terhadap kadar gula darah yang rendah dan melalui sistem saraf, merangsang kelenjar adrenal untuk melepaskan epinefrin (adrenalin). Hal in akan merangsang hari untuk melepaskan gula agar kadarnya dalam darah tetap terjaga. Jika kadar gula turun, maka akan terjadi gangguan fungsi otak.

Hipoglikemia bisa disebabkan oleh:

•Pelepasan insulin yang berlebihan oelh pankreas
•Dosis insulin atau obat lainnya yang terlalu tinggi, yang diberikan kepada penderita diabetes untuk menurunkan kadar gula darahnya
•Kelainan pada kelenjar hipofisa atau kelenjar adrenal
•Kelainan pada penyimpanan karbohidrat atau pembentukan glukosa di hati.

Secara umum, hipogklikemia dapat dikategorikan sebagai yang berhubungan dengan obat dan yang tidak berhubungan dengan obat. Sebagian besar kasus hipoglikemia terjadi pada penderita diabetes dan berhubungan dengan obat.

Hipoglikemia yang tidak berhubungan dengan obat lebih jauh dapat dibagi lagi menjadi:

•Hipoglikemia karena puasa, dimana hipoglikemia terjadi setelah berpuasa
•Hipoglikemia reaktif, dimana hipoglikemia terjadi sebagai reaksi terhadap makan, biasanya karbohidrat.

Hipoglikemia paling sering terjadi disebabkan oleh insulin atau obat lain (sulfonilurea) yang diberikan kepada penderita diabetes untuk menurunkan kadar gula darahnya. Jika dosis obat ini lebih tinggi dari makanan yang dimakan maka obat ini bisa bereaksi menurunkan kadar gula darah terlalu banyak.

Penderita diabetes berat menahun sangat peka terhadap hipoglikemia berat. Hal ini terjadi karena sel-sel pulau pankreasnya tidak membentuk glukagon secara normal dan kelanjar adrenalnya tidak menghasilkan epinefrin secara normal. Padahal kedua hal tersebut merupakan mekanisme utama tubuh untuk mengatasi kadar gula darah yang rendah.

Pentamidin yang digunakan untuk mengobati pneumonia akibat AIDS juga bisa menyebabkan hipoglikemia. Hipoglikemia kadang terjadi pada penderita kelainan psikis yang secara diam-diam menggunakan insulin atau obat hipoglikemik untuk dirinya.

Pemakaian alkohol dalam jumlah banyak tanpa makan dalam waktu yang lama bisa menyebabkan hipoglikemia yang cukup berat sehingga menyebabkan stupor.

Olah raga berat dalam waktu yang lama pada orang yang sehat jarang menyebabkan hipoglikemia.


Puasa yang lama bisa menyebabkan hipoglikemia, hanya jika terdapat penyakit lain (terutama penyakit kelenjar hipofisa atau kelenjar adrenal) atau mengkonsumsi sejumlah besar alkohol. Cadangan karbohidrat di hati bisa menurun secara perlahan sehingga tubuh tidak dapat mempertahankan kadar gula darah yang adekuat. Pada orang-orang yang memiliki kelainan hati, beberapa jam berpuasa bisa menyebabkan hipoglikemia. Bayi dan anak-anak yang memiliki kelainan sistem enzim hati yang memetabolisir gula bisa mengalami hipoglikemia diantara jam-jam makannya.

Seseorang yang telah menjalani pembedahan lambung bisa mengalami hipoglikemia diantara jam-jam makannya (hipoglikemia alimenter, salah satu jenis hipoglikemia reaktif). Hipoglikemia terjadi karena gula sangat cepat diserap sehingga merangsang pembentukan insulin yang berlebihan. Kadar insulin yang tinggi menyebabkan penurunan kadar gula darah yang cepat.

Hipoglikemia alimentari kadang terjadi pada seseorang yang tidak menjalani pembedahan. Keadaan ini disebut hipoglikemia alimentari idiopatik. Jenis hipoglikemia reaktif lainnya terjadi pada bayi dan anak-anak karena memakan makanan yang mengandung gula fruktosa dan galaktosa atau asam amino leusin. Fruktosa dan galaktosa menghalangi pelepasan glukosa dari hati; leusin merangsang pembentukan insulin yang berlebihan oleh pankreas. Akibatnya terjadi kadar gula darah yang rendah beberapa saat setelah memakan makanan yang mengandung zat-zat tersebut.

Hipoglikemia reaktif pada dewasa bisa terjadi setelah mengkonsumsi alkohol yang dicampur dengan gula (misalnya gin dan tonik). Pembentukan insulin yang berlebihan juga bisa menyebakan hipoglikemia. Hal ini bisa terjadi pada tumor sel penghasil insulin di pankreas (insulinoma). Kadang tumor diluar pankreas yang menghasilkan hormon yang menyerupai insulin bisa menyebabkan hipoglikemia.

Penyebab lainnya adalah penyakti autoimun, dimana tubuh membentuk antibodi yang menyerang insulin. Kadar insulin dalam darah naik-turun secara abnormal karena pankreas menghasilkan sejumlah insulin untuk melawan antibodi tersebut.

Hal ini bisa terjadi pada penderita atau bukan penderita diabetes. Hipoglikemia juga bisa terjadi akibat gagal ginjal atau gagal jantung, kanker, kekurangan gizi, kelainan fungsi hipofisa atau adrenal, syok dan infeksi yang berat. Penyakit hati yang berat (misalnya hepatitis virus, sirosis atau kanker) juga bisa menyebabkan hipoglikemia.

Mekanisme respon hipoglikemia, pada awalnya, tubuh secara otomatis memberikan respon terhadap rendahnya kadar gula darah dengan melepaskan epinefrin (adrenalin) dari kelenjar adrenal dan beberapa ujung saraf. Epinefrin akan merangsang pelepasan gula dari cadangan tubuh tetapi juga menyebabkan gejala yang menyerupai serangan kecemasan (berkeringat, kegelisahan, gemetaran, pingsan, jantung berdebar-debar dan kadang rasa lapar).

Hipoglikemia yang lebih berat menyebabkan berkurangnya glukosa ke otak dan menyebabkan pusing, bingung, lelah, lemah, sakit kepala, perilaku yang tidak biasa, tidak mampu berkonsentrasi, gangguan penglihatan, kejang dan koma. Hipoglikemia yang berlangsung lama bisa menyebabkan kerusakan otak yang permanen.

Gejala yang menyerupai kecemasan maupun gangguan fungsi otak bisa terjadi secara perlahan maupun secara tiba-tiba. Hal ini paling sering terjadi pada orang yang memakai insulin atau obat hipoglikemik per-oral.

Pada penderita tumor pankreas penghasil insulin, gejalanya terjadi pada pagi hari setelah puasa semalaman, terutama jika cadangan gula darah habis karena melakukan olah raga sebelum sarapan pagi.

Pada mulanya hanya terjadi serangan hipoglikemia sewaktu-waktu, tetapi lama-lama serangan lebih sering terjadi dan lebih berat.

Gejala hipoglikemia jarang terjadi sebelum kadar gula darah mencapai 50 mg/dL. Maka dari itu diagnosis hipoglikemia baru bisa ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya dan hasil pemeriksaan kadar gula darah. Penyebabnya bisa ditentukan berdasarkan riwayat kesehatan penderita, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium sederhana. Jika dicurigai suatu hipoglikemia autoimun, maka dilakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui adanya antibodi terhadap insulin. Untuk mengetahui adanya tumor penghasil insulin, dilakukan pengukuran kadar insulin dalam darah selama berpuasa (kadang sampai 72 jam). Pemeriksaan CT scan, MRI atau USG sebelum pembedahan, dilakukan untuk menentukan lokasi tumor.

Prinsip dari pengobatan hipoglikemia adalah menaikan kembali kadar gula darah yang rendah itu sehingga mencapai kadar normalnya. Makanya gejala hipoglikemia ini dapat menghilang dalam beberapa menit setelah penderita mengkonsumsi gula (dalam bentuk permen atau tablet glukosa) maupun minum jus buah, air gula atau segelas susu.

Namun untuk seseorang yang sering mengalami hipoglikemia (terutama penderita diabetes), hendaknya selalu membawa tablet glukosa karena efeknya cepat timbul dan memberikan sejumlah gula yang konsisten. Baik penderita diabetes maupun bukan, sebaiknya sesudah makan gula diikuti dengan makanan yang mengandung karbohidrat yang bertahan lama (misalnya roti atau biskuit). Jika hipoglikemianya berat dan berlangsung lama serta tidak mungkin untuk memasukkan gula melalui mulut penderita, maka diberikan glukosa intravena untuk mencegah kerusakan otak yang serius.

Seseorang yang memiliki resiko mengalami episode hipoglikemia berat sebaiknya selalu membawa glukagon. Glukagon adalah hormon yang dihasilkan oleh sel pulau pankreas, yang merangsang pembentukan sejumlah besar glukosa dari cadangan karbohidrat di dalam hati. Glukagon tersedia dalam bentuk suntikan dan biasanya mengembalikan gula darah dalam waktu 5-15 menit.

Jika hipoglikemia yang terjadi itu akibat adanya tumor penghasil insulin, maka cara penyembuhannya adalah harus diangkat melalui pembedahan. Sebelum pembedahan, biasanya diberikan obat untuk menghambat pelepasan insulin oleh tumor (misalnya diazoksid). Untuk seseorang yang sering mengalami hipoglikemia, tapi bukan penderita diabetes, dapat menghindari serangan hipoglikemia dengan sering makan dalam porsi kecil.

Riset: Otak Facebooker Hanya Sanggup Berteman 150 Orang

Warga Facebook alias facebooker sering 'menimbun' jumlah teman, kadang sampai ribuan banyaknya. Namun menurut seorang peneliti, manusia sesungguhnya tidak mampu mengingat atau mengendalikan hubungan sosial dengan lebih dari 150 orang saja.

Adalah Robin Dunbar, profesor Evolutionary Anthropology di Oxford University yang mencetuskan klaim itu. Sang profesor pernah mengembangkan teori bernama 'Dunbar's number' yang jadi basis pernyataannya tersebut.

Teori itu mengklaim bahwa ukuran neocortex--bagian otak untuk berpikir sadar dan berbahasa--membatasi manusia untuk mengurus lingkungan sosial hanya dengan sekitar 150 teman, tak peduli betapapun besar sikap sosial seseorang.

Jumlah itu didapat setelah Dunbar meneliti seberapa sering manusia melakukan kontak dalam berbagai golongan masyarakat, dari lingkungan pedesaan sampai perkotaan.

Ternyata menurut riset lanjutan Durban, meski Facebook memungkinkan orang punya begitu banyak teman, tetap saja jumlah teman yang bisa dikontrol berkisar pada angka 150.

"Anda bisa memiliki 1500 teman, namun ketika Anda lihat trafik di situs, Anda akan melihat bahwa orang tetap mempunyai lingkaran pertemanan di kisaran 150 orang," tukas Dunbar seperti dilansir Times of India yang dikutip detikINET, Senin (25/1/2010).

Dunbar menambahkan bahwa wanita cenderung lebih baik dalam membina hubungan dengan terus berkomunikasi satu sama lain. Sedangkan kaum lelaki membutuhkan kebersamaan secara fisik sebelum bisa jadi akrab.

Kopi Tidak Meningkatkan Risiko Serangan Jantung

Selama ini telah banyak dilakukan penelitian mengenai hubungan kopi dan risiko serangan jantung, namun hasilnya berbeda-beda. Beberapa hasil penelitian menunjukkan efek negatif kopi terhadap jantung , sementara penelitian lain tidak menunjukkan adanya kaitan antara kopi dan kesehatan jantung.

Dalam sebuah penelitian terkini yang dilakukan terhadap sejumlah wanita Swedia menunjukkan bahwa kopi tidak terbukti dapat menyebabkan peningkatan risiko serangan jantung. Penelitian tersebut dilakukan oleh Dr. Sarah A. Rosner dan rekan-rekannya dari Harvard School of Public Health di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat.

Dalam penelitian itu Dr. Rosner melakukan pemeriksaan secara prospektif mengenai efek konsumsi kopi terhadap risiko serangan jantung pada 32.650 wanita Swesia berusia antara 40 sampai 74 tahun.

Para wanita Swedia tersebut berpartispasi dalam penelitian yang dilakukan antara tahun 1987 sampai 1990. Dalam pemantauan lanjut selama 5 tahun, terjadi serangan jantung pada 459 partisipan, dengan 391 yang tidak fatal, sedangkan 68 kasus lainnya fatal.

Dalam analisa untuk menemukan kemungkinan faktor predisposisi, tim peneliti menemukan bahwa wanita yang meminum 5 cangkir kopi java atau lebih per minggu ternyata justru memiliki risiko serangan jantung 32 persen lebih rendah dibandingkan wanita yang tidak meminum kopi atau meminum 1 sampai 4 cangkir saja per minggu.Walaupun demikian, hasil penelitian tersebut tidak mencapai angka yang signifikan secara statistik.

Para peneliti melaporkan dalam American Journal of Epidemiology edisi Februari 2007 bahwa terdapat ‘kecenderungan risiko yang lebih rendah dengan tingkat konsumsi yang lebih tinggi, walaupun tidak signifikan.’

Beberapa mekanisme biologis yang mungkin dapat menjelaskan bagaimana kopi dapat menurunkan risiko serangan jantung dijelaskan oleh tim Dr. Rosner,” Kopi mengandung zat fenolik, yang merupakan suatu antioksidan yang telah dikenal dan dapat mengurangi stres oksidatif.”

Sebagai tambahan, kopi juga dapat memperbaiki penggunaan insulin tubuh sehingga dapat mencegah diabetes tipe 2.

Membedakan Gula Alami dan Gula Buatan

Gula bagian tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam makanan yang kita konsumsi sehari-hari, Bahan makanan dengan rasa manis ini termasuk di dalamnya. Pada dasarnya, gula merupakan karbohidrat alami yang terdapat pada buah-buahan.

Sekarang, banyak gula buatan dalam makanan yang kita konsumsi Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) mendefinikan gula buatan sebagai gula dan sirup yang ditambahkan pada makanan dan minuman selama proses pembuatan makanan.

Rasa manis yang dihasilkan gula buatan lebih tinggi daripada gula alami serta tidak memiliki nutrisi. Lebih banyak mengkonsumsi gula buatan daripada gula alami akan menyebabkan perubahan kesehatan. Terlalu banyak asupan gula dalam diet sehari-hari menyebabkan kelebihan kalori yang akhirnya memicu kegemukan.

Kelebihan konsumsi gula mengakibatkan penurunan kesehatan termasuk obesitas, tekanan darah tinggi, penyakit jantung karena kekurangan nutrisi penting lainnya. Jumlah asupan maksimum gula yang diperkenankan untuk pria sebesar 100 kalori (enam sendok teh) per hari dan wanita sekitar 150 kalori (sembilan sendok teh) per hari.

Orang dengan aktivitas tinggi membutuhkan asupan lebih tinggi, sementara semakin tua, kebutuhan gula semakin rendah.

Berikut beberapa jenis gula yang biasa dicantumkan dalam label makanan saat berbelanja.

Tanpa gula tambahan (no added sugar). Artinya, tidak ada tambahan gula selama proses pembuatan makanan. Bebas gula (sugar free) berarti makanan tidak mengandung gula. Biasanya, makanan dengan label ini sering diganti dengan pemanis buatan atau produk mengandung kurang dari 0,5 gram gula per porsi konsumsi/takaran penyajian.

Berbagai minuman mengandung porsi gula yang berbeda-beda pula. Disarankan agar lebih teliti melihat kandungan gula dalam asupan minuman.

•12 ons jus buah mengandung 170 kalori (11 sendok teh)
•12 ons minuman bersoda mengandung 150 kalori (9 sendok teh)
•12 ons minuman energi mengandung 150 kalori (9 sendok teh)
•12 ons teh manis mengandung 110 kalori (7 sendok teh)
•12 ons minuman olahraga mengandung 80 kalori (5 sendok teh)
•1 sendok teh gula mengandung 16 kalori

Saat berbelanja, sebaiknya perhatikan dengan baik apakah makanan mengandung gula alami atau gula buatan. Beberapa jenis gula yang sering ditambahkan dalam makanan yaitu gula merah, gula jagung, sirup dari gula jagung, fruktosa, glukosa, sirup jagung dengan kandungan tinggi fruktosa, madu, gula alami, maltosa, sirup maltosa, molase, gula mentah, sukrosa atau sirup.

Perhatikan juga kandungan gula alkohol yang ada dalam makanan. Sebenarnya, gula alkohol bukanlah gula, tetapi karbohidrat yang berfungsi sebagai pemanis buatan. Nilai kalorinya hanya setengah dari kalori gula biasa. Beberapa contoh diantaranya sorbitol, manitol, dan xylitol. Permen karet bebas permen karet biasanya mengandung gula alkohol.

Apabila ingin mengurangi asupan gula, cobalah membatasi konsumsi kue, cake, dan permen. Gunakan lebih sedikit gula dalam kopi atau teh. Kandungan gula juga banyak terdapat pada roti, crackers, pizza, saus pasta, saus barbeque, kecap, dressing salad, hidangan pada makan siang, sup, yogurt, dan cokelat.

Kelebihan gula menimbulkan masalah kesehatan, namun jangan sampai meninggalkan gula. Gunakan gula untuk menambah rasa sedap nutrisi harian

Rasa Bosan Mempercepat Kematian

London, Mungkin terlalu berlebihan jika dibilang bahwa perasaan bosan mempercepat kematian. Tapi hal itu memang benar-benar terjadi dan peneliti sudah membuktikannya. Menurut peneliti, seseorang yang dilanda rasa bosan akan lebih cepat mengalami kematian dini akibat penyakit jantung dan stroke.

Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh peneliti dari University College London (UCL), orang yang sering mengeluh bosan memiliki risiko meninggal dunia akibat penyakit jantung dan stroke dua kali lebih besar dibanding orang yang jarang merasa bosan.

Lebih dari 7.000 partisipan berusia 35 hingga 55 tahun diikutsertakan dalam studi ini. Para partisipan tersebut dimonitor kehidupannya selama 25 tahun.

Hasilnya menunjukkan partisipan yang sering merasa bosan selama hidupnya, diketahui 40 persen lebih banyak yang meninggal dunia pada akhir studi. Sementara itu, partisipan yang jarang merasa bosan atau bisa mengatasi rasa bosannya dengan baik masih bisa bertahan hingga studi berakhir.

Hasil survei yang dipublikasikan dalam the International Journal of Epidemiolog (IJE) ini juga menunjukkan bahwa wanita dua kali lebih cepat merasa bosan ketimbang pria. Pegawai yang masih muda dan pekerja bawahan pun dikategorikan sebagai golongan yang paling rentan mengalami kebosanan.

Berawal dari rasa bosan kerja, sekolah atau beraktivitas, lama kelamaan bisa menjadi bosan hidup. Kebanyakan orang yang merasa bosan menghabiskan waktunya dengan melakukan kebiasaan tidak sehat seperti minum alkohol, merokok dan lainnya. Menurut peneliti, semua kebiasaan buruk itu membuat umur hidupnya menjadi lebih pendek.

"Penemuan ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat erat antara rasa bosan dengan penyakit jantung atau stroke. Saat merasa benar-benar bosan, sebaiknya seseorang mencari sesuatu yang lebih menarik dan menyenangkan daripada beralih pada kebiasaan buruk seperti merokok atau minum-minum," kata psikolog Graham Price seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (9/2/2010).

Sebuah tips diberikan Price untuk mengatasi rasa bosan. "Jika sedang bosan, cobalah pikirkan sesuatu yang bisa Anda lakukan untuk orang lain. Rasa bosan biasanya muncul jika otak selalu berpikir tentang saya, saya dan saya. Cobalah berpikir apa yang bisa saya lakukan untuk keluarga, teman, rekan atau orang lain," ujarnya.(fah/ver)

Pankreas Buatan Segera Diciptakan

Pankreas buatan akan segera diciptakan oleh para ilmuwan diabetes bersama perusahaan produsen pompa insulin, Animas. The Juvenile Diabetes Research Foundation (JDRF) pada Rabu (13/1) waktu setempat mengemukakan, mereka memilih unit dari Johnson & Johnson itu untuk mengembangkan dan mencoba teknologi baru, yakni sistem pompa dan pengawasan khusus untuk diabetes tipe-1.

“Ini akan menjadi sebuah riset dan pengembangan tahap pertama ke arah penciptaan pankreas buatan,” kata Dr. Henry Anhalt, direktur urusan medis dari Animas, seperti yang dikutip Maggie Fox dari Reuters.

Animas akan bekerjasama dengan yayasan itu menciptakan perpaduan antara alat pencatat glukosa, pompa insulin, dan beberapa perangkat lunak dengan teknologi nirkabel. Sistem baru itu akan memudahkan para penderita diabetes untuk memeriksa darah dan menginjeksi insulin.

Tujuannya adalah sebuah alat yang mampu mengecek darah setiap saat dan menyuntikan insulin ketika dibutuhkan, tanpa bantuan orang lain. Artinya teknologi ini ke depannya menjadi hanya satu paket, baik itu pompa insulin atau sistem pencatatan glukosa saja.

“Di sinilah letak daya magisnya, ketika kedua alat ini mampu berkomunikasi satu sama lain. Sekarang kedua alat ini sudah tersedia tetapi masih terpisah,” jelas Alan Lewis, pejabat kepala eksekutif dan presiden JDRF.

Yayasan itu telah bertahun-tahun bekerjasama dengan pusat-pusat ilmu pengetahuan untuk membangun sistem yang sempurna dan bisa memasarkannya.

“Animas adalah badan yang menyediakan peralatannya. JDRF akan menjadi rekanan yang menggunakan pengetahuan dan keahlian kami,” kata Lewis lagi.

Yayasan itu menggelontorkan delapan juta dolar AS untuk tiga tahun ke depan bagi proyek itu. Tujuannya adalah memiliki teknologi generasi pertama dari perangkat canggih tersebut sehingga bisa dievaluasi selama empat tahun mendatang.

Diabetes tipe-1 adalah penyakit “autoimune”, yakni sistem kekebalan tubuh malah merusak sel-sel pankreas yang memproduksi insulin. Tubuh tidak lagi bisa melarutkan dan menggunakan gula. Jika tidak diobati, maka akan merusak pembuluh darah dan saraf, organ-organ tubuh, dan akhirnya meninggal.

Bahkan, jika diobati, maka pembuluh darah dan organ tubuh tetap rusak, kebutaan, gagal ginjal, bahkan kehilangan anggota tubuh. Di Amerika Serikat (AS) diperkirakan tiga juta orang, rata-rata anak-anak dan remaja, mengidap diabetes tipe-1.

“Ini bisa menjadi pertolongan pertama karena tidak saja meningkatkan pengawasan glukosa tetapi juga mengangkat seluruh beban,” kata Aaron Kowalsky dari JDRF.

Yang belum sempurna adalah perangkat lunak yang mengatur pompa insulin dan gula darah agar tidak terlalu tinggi ataupun rendah. Animas dan JDRF akan bekerjasama untuk menemukan formula terbaik untuk itu dan mencobanya.

“Belum ada satu algoritma pun yang sesuai dengan gejala-gejala dari pasien,” kata Anhallt, seorang dokter spesialis organ pankreas anak.

Menurut Lewis, DexCom Inc. yang menciptakan alat pengontrol glukosa akan menyediakan produknya itu menjadi bagian dari paket tersebut.

“Kami percaya Animas adalah pemimpin lapangan yang akan mengizinkan kami memasarkan sebuah produk,” kata Lewis. Targetnya menciptakan teknologi yang dipercaya oleh dokter, pasien, dan orang tua.

“Semua orang tua yang harus bangun tiap malam untuk memeriksa kadar gula darah anaknya akan lebih lega karena anak-anak mereka tidak lagi akan bangun karena kadar gula darahnya yang sangat rendah,” ulas Kowalski, yang juga mengidap diabetes tipe-1.

Ia menambahkan, “Di sini kualitas kehidupan tidak dilebih-lebihkan.” (*) Sumber: AntaraNews.com | 14 Januari 2010

Pengobatan DM dengan Terapi Lintah

Diabetes Mellitus sulit dikenali gejalanya sehingga banyak penderita yang baru berobat setelah mengalami komplikasi penyakit yang parah. Karena itu penanganannya perlu dilakukan pada upaya intervensi dini untuk mencegah progressivitas penyakit sebelum menjadi Diabetes Mellitus tipe dua.

Setiap tahun lebih dari tiga juta orang di seluruh dunia meninggal sebagai akibat dari komplikasi Diabetes Mellitus atau dengan kata lain terjadi satu kematian setiap tiga detik. Diet serta olahraga yang teratur dapat mengurani secara drastis kemungkinan seseorang dengan toleransi glukosa terganggu karena diabetes.

Orang-orang dengan pra-diabetes dapat berkembang menjadi Diabetes Mellitus tipe dua dalam waktu sepuluh tahun, kecuali mereka dapat mengurangi tujuh persen berat badan melalui modifikasi gaya hidup intensif.

Pra-diabetes merupakan kondisi dimana kadar gula darah lebih tinggi dari normal, tetapi tidak cukup tinggi untuk diagnosa sebagai diabetes. Ciri-cirinya ada gangguan kadar gula darah yang diukur dengan adanya toleransi gula darah terganggu (TGT) atau gula darah puasa terganggu (GDPT).

Therapy efektif bisa dilakukan dengan lintah, untuk mengobati Diabetes Mellitus (kering) lintah-lintah tersebut ditempelkan pada bagian yang ba’al, mati rasa, kesemutan, kaku, sakit disekitar kaki maupun tangan. Gangguan seperti sering buang air kecil pada malam hari, tidak bisa buang air besar setiap hari, perut kembung dan gangguan disfungsi ereksi bisa disembuhkan dengan Therapy Lintah & Herbal yang teratur.

Diabetes Mellitus (basah) radang, bengkak, luka yang tidak bisa sembuh, busuk, sudah mati rasa disekitar lubang luka, tanpa perlu diamputasi dengan therapy lintah dan ramuan herbal, Diabetes Mellitus (basah) bisa disembuhkan secara total.

Terapi alternatif dengan Lintah (Hirudo Medicinalis) telah digunakan sejak abad ke 18, namun sejak berkembangnya dunia medis kedokteran di abad 19, perlahan terapi lintah mulai dilupakan orang.

Terapi ini kembali digunakan pada awal 1990 dimana dalam sebuah riset medis dengan Terapi lintah berhasil membuktikan bahwa terapi ini dapat menyembuhkan Tumor tanpa kemoterapi dan pembedahan.

Riset yang dilakukan di Eropa juga membuktikan bahwa terapi lintah yang dilakukan dengan pengobatan medis (obat2an) atau Herbal dapat meningkatkan efektifitas obat.

Hingga saat ini tidak ditemukan adanya efek samping sebagai akibat terapi hirudo medicinalis.

Untuk pertama kalinya, astronom akhirnya menemukan planet yang mirip Bumi di luar Tata Surya, sebuah planet ekstrasolar dengan radius 50% lebih besar

Sinyal dari Pioneer 10, wahana antariksa pertama yang melintasi planet Jupiter akhirnya kembali terlacak setelah sebelumnya menghilang selama delapan bulan. Sinyal yang dikirim oleh wahana yang kini berada lebih dari 7 milyar mil dari bumi (sekitar 12,6 milyar km), dalam pengembaraan keluar tatasurya itu diterima oleh stasiun pelacak di Madrid, Spanyol pada 28 April 2001.

Pioneer adalah nama yang diberikan untuk serangkaian wahana antariksa untuk eksplorasi tata surya yang diluncurkan oleh Amerika Serikat. Empat wahana Pioneer yang pertama, diluncurkan dalam tahun-tahun 1958 dan 1959 dengan tujuan Bulan dan kesemuanya menemui kegagalan. Pioneer 5 sampai 9 diluncurkan antara tahun 1960 dan 1968 merupakan wahana antarplanet dengan misi pengamatan kegiatan Matahari.

Pioneer 10 diluncurkan pada tanggal 2 Maret 1972, dengan Roket peluncur Atlas/Centaur/TE364-4. Peluncurannya menandai penggunaan untuk pertama kalinya kendaraan peluncur bertingkat tiga. Roket tingkat ketiga dibutuhkan untuk meluncurkan Pioneer 10 pada kecepatan 51,810 km/jam yang dibutuhkan untuk terbang ke Jupiter, cukup cepat untuk mencapai Bulan dalam waktu 11 jam dan melintasi orbit planet Mars dalam waktu hanya 12 minggu. Hal ini mencatatkan Pioneer sebagai benda buatan manusia tercepat yang meninggalkan Bumi.

Pioneer 10 mencapai Jupiter pada jarak 130.354 km dari permukaan awan planet raksasa tersebut pada 3 Desember 1973. Dalam perlintasannya dengan Jupiter, Pioneer 10 mengirimkan gambar jarak dekat (close-up) pertama dari planet tersebut. Selepas planet Jupiter, Pioneer 10 diarahkan keluar dari tata surya dengan misi untuk mempelajari partikel energi dari matahari (juga dikenal sebagai angin surya) dan sinar kosmis yang memasuki wilayah tata surya kita di galaksi Bimasakti.

Akan halnya Pioneer 11, wahana yang diluncurkan pada 5 April 1973 tersebut berhasil mengambil gambar dari bintik merah di permukaan Jupiter yang diperkirakan menandai lokasi sebuah badai besar yang permanen dalam atmosfer Jupiter pada tanggal 2 Desember 1974 dan juga berhasil mendeteksi massa dari salah satu bulan Jupiter, Callisto. Pioneer 11 melanjutkan perjalanannya menuju Saturnus yang berhasil dicapai pada 1 September 1979 dan terbang sejauh 21.000 km dari Saturnus serta mengambil gambar jarak dekat yang pertama dari planet Tersebut.

Selepas Saturnus, Pioner 11 melanjutkan pengembaraannya keluar dari tata surya hingga pada bulan September 1995 ketika sumber tenaganya mulai melemah, Pioner 11 tidak dapat lagi melakukan observasi ilmiah sehingga operasi rutin misinya dihentikan. Saat itu Pioneer 11 berada pada jarak 6,5 milyar km dari Bumi dimana sinyal radio yang merambat dengan kecepatan cahaya membutuhkan waktu lebih dari 6 jam sebelum mencapai bumi, sementara pergerakan bumi tidak dapat dicakup oleh antena yang ada pada Pioneer 11. Komunikasi dengan Pioneer 11 terhenti sama sekali pada bulan November 1995. Wahana tersebut tidak dapat diarahkan kembali ke Bumi karena kurangnya sumber daya. Tidak diketahui apakah hingga saat ini Pioneer 11 masih mengirimkan sinyalnya. Sejauh ini tidak ada rencana untuk melakukan upaya pelacakan.

INFO UMUM: Penemuan Planet Layak Huni Pertama Selain Bumi

Untuk pertama kalinya, astronom akhirnya menemukan planet yang mirip Bumi di luar Tata Surya, sebuah planet ekstrasolar dengan radius 50% lebih besar dari bumi dan mampu memiliki air dalam bentuk cair. Penemuan ini memberi sebuah harapan baru dan sebuah langkah maju dalam usaha pencarian planet-planet yang bisa digolongkan sebagai planet layak huni. Dengan menggunakan teleskop ESO 3,6 m, tim pemburu planet dari Swiss, Perancis dan Portugal akhirnya menemukan super-Bumi yang massanya 5 kali massa Bumi dan mengorbit bintang katai merah, yang sebelumnya diketahui telah memiliki planet bermassa Neptunus. Para astronom juga menemukan bukti kuat yang menunjukkan indikasi keberadaan planet ketiga dengan massa 8 kali massa Bumi.
Planet Gliese 581 c

The Planetary System Around Gliese 581
Exoplanet, itulah cara para astronom dalam menyebut planet yang berada disekitar bintang selain Matahari. Nah, exoplanet yang baru ditemukan ini merupakan exoplanet terkecil yang pernah ditemukan hingga saat ini dan ia bisa mengitari bintangnya hanya dalam 13 hari. Dan jaraknya juga 14 kali lebih dekat dari jarak Bumi -Matahari. Bintang induknya sendiri ternyata bukanlah bintang sekelas Matahari melainkan bintang katai merah yang lebih kecil, kebih dingin dan lebih redup dibanding Matahari. Itulah bintang Gliese 581, bintang yang menaungi si exoplanet mirip Bumi tersebut.

Si exoplanet yang mirip Bumi ini terletak di dalam area layak huni sang bintang (berada dalam habitable zone bintang – akan dibahas dalam artikel yang lain), daerah disekitar bintang dimana air yang berada pada area itu bisa berada dalam bentuk cairan. Exoplanet tersebut dinamakan Gliese 581 c yang artinya planet kedua yang bermukim di bintang Gliese 581. Planet pertama dalam extrasolar planet dinamakan dengan nama bintang dan diikuti indikasi b, bintang kedua indikasinya c dst.

Menurut Stephane Udry dari Geneva Observatory, mereka memperkirakan temperatur rata-rata super-Bumi ini antara 0 – 40 derajat Celcius, dan kondisi airnya masih dalam bentuk cairan. Selain itu radiusnya juga diperkirakan hanya 1,5 kali radius Bumi, dan dari pemodelannya bisa diperkirakan kalau planet ini merupakan planet batuan seperti Bumi atau bisa jadi Gliese 581 c adalah planet lautan.

The star Gliese 581
Ditambahkan oleh Xavier Delfosse, salah satu anggota tim dari Perancis, kalau air dalam bentuk cair merupakan komponen yang sangat penting bagi kehidupan sepanjang yang kita ketahui. Dengan memiliki temperatur dan jarak yang relatif dekat seperti yang dimiliki Gliese 581 c, planet ini kemungkinan akan menjadi target penting dalam misi ruang angkasa di masa depan khususnya dalam hal pencarian kehidupan extra-terrestrial. Dan di dalam peta harta karun alam semesta, Gliese 581 c akan ditandai dengan X.

- perlu diingat perbandingan kehidupan itu sendiri akan selalu mengacu pada kehidupan di Bumi.-

Gilese 581
Bintang induk Gliese 581 merupakan satu diantara 100 bintang yang berada dekat dengan kita. Massa dan radiusnya hanya sepertiga massa Matahari. Planet katai merah seperti ini secara intrinsik memiliki kecerlangan setidaknya 50 kali lebih lemah dari Matahari. Bintang katai merah juga termasuk bintang yang umum ditemukan di dalam galaksi kita (Bimasakti) : diantara 100 bintang dekat dengan Matahari, 80 diantaranya berada di kelas ini.

Gl 581, atau Gliese 581, merupakan bintang ke 581 dalam urutan Katalog Gliese yang merupakan susunan bintang yang berada dalam jarak 25 parsecs (81,5 tahun cahaya) dari bintang. Katalog tersebut dibuat oleh Gliese dan diterbitkan pada tahun 1969 dan diperbaharui tahun 1991 oleh Gliese dan Jahreiss. Gliese 581 sendiri jaraknya 6,26 parsecs (22,66 tahun cahaya) berada di konstelasi Libra dan usianya 4,3 milyar tahun.

Menurut Xavier Bonfils dari Lisbon University, Bintang katai merah merupakan target ideal dalam pencarian planet bermassa kecil yang memiliki air dalam bentuk cair. Hal ini disebabkan karena bintang katai seperti ini memancarkan sedikit cahaya sehingga daerah layak huninya (habitable zone) berada lebih dekat dengan bintang dibanding planet-planet disekitar Matahari.

Planet-planet yang berada di daerah tersebut akan lebih mudah dideteksi dengan menggunakan metode kecepatan radial, metode yang paling sukses dalam pencarian dan deteksi exoplanet.

Planet Lainnya di Gliese 581
Dua tahun lalu, tim astronom yang sama juga menemukan planet yang mengelilingi Gliese 581. Planet yang dikenal dengan nama Gliese 581 b memiliki massa 15 massa Bumi, dan mirip dengan Neptunus. Ia mengorbit Gliese 581 hanya menghabiskan waktu 5,4 hari. Pada saat itu astronom juga sudah melihat adanya indikasi planet lain disekitar tempat itu. Dan setelah pencarian yang lebih lanjut, ditemukan planet super-Bumi, tapi bukan hanya itu, ada juga indikasi yang sangat jelas menunjukkan kalau ditempat itu ada planet ketiga. Planet ketiga tersebut memiliki massa 8 kali massa Bumi dan menyelesaikan putaran orbitnya dalam waktu 84 hari.

Sistem keplanetan di Gliese 581 sedikitnya telah memiliki 3 buah planet dengan massa kurang lebih 15 massa Bumi, dan ini bisa dikatakan merupakan sistem yang luar biasa. Selama ini pencarian exoplanet paling banyak dilakukan pada bintang yang sekelas Matahari.

Metode Pengamatan
Penemuan Gliese 581 c ini dilakukan dengan menggunakan metode kecepatan radial. Metode kecepatan radial mendeteksi perubahan kecepatan bintang induk yang diakibatkan oleh gaya gravitasi dari exoplanet (yang tak terlihat) saat ia mengorbit bintangnya. Evaluasi pengukuran kecepatan akan memberi deduksi tentang orbit planet, biasanya bisa diketahui periode dan jarak dari bintang, serta massa minimumnya. Secara statistik, massa minimum ini mendekati massa yang sebenarnya.

Penemuan ini dilakukan menggunakan spektograf HARPS (High Accuracy RAdial Velocity for the Planetary Searcher), teleskop ESO 3,6 m di La Silla, Chille. HARPS bisa mengukur kecepatan dengan presisi lebih baik dari 1 meter per detik (3,6 km/jam). Dalam pendeteksian ini, variasi kecepatan yang terdeteksi antara 2 dan 3 meter per detik atau setara dengan 9 km/jam. Dari 13 planet yang massanya dibawah 20 massa Bumi, 11 diantaranya ditemukan dengan HARPS.

Selain Gliese 581 c ada dua sistem lain yang memiliki massa kecil juga, yakni planet es yang mengitari OGLE-2005-BLG-390L, yang ditemukan dengan jaringan teleskop microlensing. Massa planet tersebut 5,5 massa Bumi. Namun planet tersebut orbitnya lebih jauh dari bintang induknya yang kecil dibanding jarak Gliese 581 c dengan bintangnya. Selain itu planet yang mengitari OGLE-2005-BLG-390L juga lebih dingin.

Planet lainnya memiliki massa minimum 5,89 massa Bumi (dengan kemungkinan massa benarnya 7,53 massa Bumi) dan periode orbitnya kurang dari 2 hari, hal ini menyebabkan si planet terlalu panas untuk masih memiliki air di permukaannya.

Penemuan Gliese 581 c memberi satu titik cerah dalam masalah pencarian planet-planet yg mirip Bumi didalam zona layak huni bintang. Tapi untuk tiba pada apakah ada kehidupan lain disana atau mungkinkah kita hidup disana masih ada banyak hal yang perlu dijawab.

Penyakit Zoonosis Kian Jadi Perhatian

ATLANTA, KOMPAS - Penyakit infeksi zoonosis semakin mendapat perhatian dunia. Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat, misalnya, belakangan memfokuskan berbagai penyelidikan mereka terhadap penyakit zoonosis atau penyakit infeksi yang menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya.

Henry Walke selaku Kepala Program Kantor Koordinasi dan Pengembangan Kesehatan Dunia dan Kesehatan Masyarakat pada Centers for Disease Control and Prevention (CDC) AS mengatakan, Selasa (9/3/2010), sekitar 60 persen penyakit infeksi yang baru muncul merupakan penyakit zoonosis.

Dia mengatakan, penyakit zoonosis semakin menjadi ancaman, terutama di negara berpopulasi besar, beragam, dan mempunyai keragaman satwa, termasuk satwa liar.

Sejumlah faktor pemicu penularan penyakit, antara lain, adalah perubahan lingkungan hidup yang menyebabkan semakin dekat jarak hewan dengan manusia. Faktor lainnya ialah domestikasi hewan, termasuk untuk hewan eksotik. Akibatnya, penyakit yang tadinya berdiam di hewan berpindah ke manusia. Sejumlah kasus seperti terjadinya flu burung, rabies, dan ebola merupakan contoh yang menyebabkan berbagai masalah serius dan terjadi di sejumlah negara.

”Sebagian besar penyelidikan penyakit yang dilakukan CDC kemudian mengarah ke kasus zoonosis,” ujar Henry dalam kegiatan Crisis and Risk Emergency Communication di Atlanta, Selasa.

Untuk pengendalian berbagai penyakit tersebut dibutuhkan infrastruktur kesehatan publik yang baik, antara lain perangkat surveilans atau pemantauan penyakit. CDC sendiri memberikan bantuan teknis berdasarkan permintaan dari negara yang bersangkutan. Bantuan yang diberikan biasanya merupakan bantuan teknis dan tenaga ahli spesifik untuk penyakit tertentu.

Semakin giat

Direktur Global Disease Detection Operations Center CDC Ray Arthur mengatakan, program pendeteksian dan investigasi penyakit semakin giat dilakukan, terutama setelah munculnya kasus SARS di berbagai belahan dunia. Lewat pendeteksian itu, semakin banyak patogen baru yang ditemukan, yakni setidaknya lima patogen baru tahun 2003 hingga menjadi sekitar 30 patogen baru sampai dengan tahun 2008.

Director Division of Viral and Rickettsial Disease National Center for Zoonotic Vector-Borne and Enteric Disease CDC Steve Monroe mengatakan, patogen itu tidak selalu baru sama sekali. Dapat terjadi selama ini patogen sudah ada, tetapi tidak dikenali. Hal itu karena patogen terisolasi di tubuh hewan atau para penderitanya terpencil.

”Umumnya, patogen baru diketahui kemudian setelah terjadi peningkatan kasus di populasi,” ujarnya.

Untuk menemukan patogen baru tersebut, mereka membangun sistem, salah satunya ialah pengumpulan berita dari ribuan media di seluruh dunia. Media skrining tersebut menjadi peringatan awal adanya penyakit.

Jika kasus dinilai cukup signifikan, diturunkan tim guna menyelidiki kasus tersebut. CDC mempunyai sekitar 18 perwakilan di seluruh dunia. Di beberapa negara mereka sedang menyelidiki virus polio liar, HIV, dan flu burung (H5N1).

Ray menambahkan, tantangan dalam menangani penyakit-penyakit yang bersifat global, antara lain, adalah ketidakmampuan pihak berwenang di lokasi kejadian untuk mendeteksi dengan tepat. Selain itu, para pemimpin juga enggan melaporkan kasus yang dialaminya kepada komunitas global.

Indira Permanasari dari Atlanta, Amerika Serikat.



Sumber : Kompas.Com