Kamis, 21 April 2011

Kep.Jiwa (GANGGUAN HUBUNGAN SOSIAL)

GANGGUAN HUBUNGAN SOSIAL

Manusia adalah mahkluk, untuk mencapai kepuasan dalam kehidupan , bina hubungan interpersonal yang positif.

I. Pengertian

Dibawah ini ada beberapa pengertian menurut tokoh tokoh antara lain ;

Stuart and Sudden (1998)

Hubungan interpersonal yang sehat terjadi jika individu yang terlibat saling merasakan kedekatan, sementara identitas pribadi masih tetap dipertahankan.

Rogers

Karakteristik hubungan yang sehat : terbuka, menerima orang lain sebagaisebagai orang yang mempunyai nilai sendiridan adanya rasa empati.

Gangguan hubungan social

Pengertian:

Keadaan dimana seorang individu berpartisipasi dalam kuantitas yang berlebihan atau tidak cukup atau ketidakefektifan kualitas pertukaran sosial (Townsend,1998)

II. RENTANGAN RESPONDEN SOSIAL

R. Adapati R. Maladapatif

Sosial Kesepian Manipulasi

Otonomi Menarik diri Impulsif

Kebersamaan Ketergantungan Narkisisme

Saling ketergantungan

(Stuart and Sundeen,hal 441)

PERILAKU YANG BERHUBUNGAN DENGAN RESPONDEN SOSIAL MALADAPTIF

Perilaku

Karakteristik

Manipulasi

Orang lain diperlakukan seperti obyek hubungan terpusat pada masalah pengendalian individu, berorientasi pada diri sediri atau pada tujuan, bukan berorintasi pada orang lain.

Narkisisme

Harga diri yang rapuh, secara terus menerus berusaha

Inplusif

Mendapatkan penghargaan, pujian, sikap egosentris, pencemburu, marah jika orang lain tidak mendukung. Tak mampu merencanakan sesuatu, tidak mampu belajar dari pengalaman , penilaian yang buruk tidak dapat diandalkan

Perilaku menarik diri :

Adalah usaha menghidari interaksi dengan orang lain dimana individu merasa bahwa kehilangan hubungan akrab, tidak mempunyai kesempatan membagi rasa, fikiran, prestasi / kegagalan, ia mempunai kesulitan berhubungan secara spontan dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain.

III. KARAKTERISTIK PERILAKU MENARIK DIRI

. Gangguan pola makan : tidak ada nafsu makan / minum berlebihan

. Berat badan menurun /meningkat dratis

. Kemunduran kesehatan fisik

. Tidur berlebihan

. Tingal ditempat tidur dalam waktu yang lama

. Banyak tidur siang

. Kurang bergairah

. Tak mempedulikan lingkungan

. Aktivitas menurun

. Mondar – mandir / sikap mematung, melakukan gerakan secra berulang (jalan mondar mandir)

. Menurunnya kegiatan seksual

TUGAS PERKEMBANGAN BRHUBUNGAN DENGAN

PERTUMBUHAN INTERPERSONAL

Tahap perkembangan

Tugas

Masa bayi

Menetapkan landasan percaya

Masa bermain

Mengembangkan otonomi dan awal perilaku mandiri

Masa pra sekolah

Belajar menunjukkan inisiatif dan rasa tanggung jawab dan hati nurani

Masa sekolah

Belajar berkompetisi, bekerja sama dan berkompromi

Masa pra remaja

Menjadi intim dengan teman sejenis kelamin

Masa remaja

Menjadi intim dengan lawan jenis kelamin dan tidak tergantung pada orsng tua

Masa dewasa muda

Menjadi saling tergantung dengan orang tua, teman, menikah dan mempunyai anak

Masa tengah baya

Belajar menerima

Masa dewasa

Berduka karena kehilangan dan mengembangkan perasaan keterikatan dengan budaya.

IV. FAKTOR – FAKTOR PENCETUS GANGGUAN HUBUNGAN SOSIAL.

1. Faktor perkembangan

. Gangguan dalam pencapaian tingkat perkembangan

. Sistem kelarga yang terganggu

. Norma keluarga kurang mendukung hubungan keluarga dengan pihak lain diluar keluarga.

2. Faktor biologik

. Genetik, neurotransmiter masih perlu penelitian lebih lanjut.

3. Faktor sosio cultural

. Isolasi akibat dari norma yang tidak mendukng

. Harapan yang tidak realistic terhadap hubungan

V. STRESSOR PENCETUS

1. Stressor sosio cultural

. Menurunya satabilitas unit keluarga

. Berpisah dari orang yang berarti dalam kehidupannya

2. Stresor psikologik

· Ansietas berat yang berkepenjangan dengan keterbatasan untuk mengatasi.

VI. SUMBER KOPING

· Keterlibatan dalam hubungan yang luas dalam keluarga dan teman.

· Hubungan dengan hewan peliharaan

· Gunakan kreatifitas utuk mengekspresikan stress interpersonalseerti kesenian,musik,tulisan.

VII. MEKANISME KOPING

1. Koping yang berhubungan dengan gangguan kepribadian anti social

. Poyeksi

. Pemisahan

. Merendahkan orang lain

2. Koping yang berhubungan dengan gangguan kepribadian “border line”

. Pemisahan

. Reaksi formasi

. Proyeksi

. Isolasi

. Idealisasi orang lain

. Merendahkan orang lain

LANGKAH-LANGKAH PROSES KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

1. Fraktor predisposisi

a. Faktor tumbuh kembang

Pada masa tumbuh kembang individu mempunyai tugas perkembsangan yang

harus dipenuhi, setiap tahap perkembangan mempunyai spesifikasi tersendiri

Bila tugas dalam perkembangan tidak terpenuyhi akan menghambat tahap

Perkembangan selanjutnya dan dapat terjadi gangguan hubungan social.

b. Faktor komunikasi dalam keluarga

Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung terjadi

nya gangguan hubungan sosial, termasuk komunikasi yang tidak jelas (

double blind komunikation), ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga dan

pola asuh keluarga yang tidak menganjurkan anggota keluarga untuk

berhubungan di luar lingkungan keluarga.

c. Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan sosial merupakan factor

pendukung untuk terjadinaya ada gangguan hubungan sosial. Hal ini

disebabkan oleh noma-norma yang dianut keluarga yang salah, dimana tiap

anggota keluarga yang tidak produktif diasingkan dari hubungan sosialnya

misalnya : usia lanjut, penyakit kronis, penyandang cacat dan lain-lain.

2. Faktor predisposisi

a. Struktur sosial budaya

Stres yang ditimbulkan oleh factor sosial budaya antara lain keluarga yang

labil, berpisah dengan orang yang terdekat/berarti, perceraian dan lain-lain.

b. Faktor hormonal

Gangguan dari fungsi kelenjar bawah otak (gland pituitary ) menyebabkan

turunya hormon FSH dan LH. Kondisi ini terdapat pada pasien skizofrenia.

c. Hipotesa virus

Virus HIV dapat menyebabkan prilaku spikotik.

d. Model biological lingkungan sosisal

Tubuh akan menggambarkan ambang toleransi seseorang terhadap stress pada

saat terjadinya interaksi dengan interaksi sosial.

e. Stressor psikologik

Adanya kecemasan berat dengan terbatasnya kemampuan menyelasaikan

kecemasan tersebut.

3. Prilaku

a. Tingkah laku yang berhubungan dengan curiga

1. Tidak mampu mempercayai orang lain.

2. Bermusuhan.

3. Mengisolasi diri dalam hubungan sosial

4. Paranoia

b. Tingkah laku yang berhubungan dengan dependen

1. Ekpresi perasaan tidak langsung dengan tujuan.

2. Kurang asertif

3. mengisolasi diri dalam hubungan sosial

4. Harga diri rendah

5. Sangat tergantung dengan orang lain.

c. Tingkah laku yang berhubungan dengan kepribadian anti sosial.

1. Hubungan interpersonal yang dangkal

2. Rendahnya motifasi untuk berubah

3. Berusaha untuk tampil menarik.

d. Tingkah laku yang berhubungan dengan borderline.

1. Hubungan dengan orang lain sangat stabil

2. Percobaan bunuhdiri yang manipulatif

3. Susunan hati yang negatif (depresif)

4. Prestasi yang rendah

5. Abivalensi dalam hubungan dengan orang lain

6. Tidak tahan dengan sendirian

e. Tingkah laku yang berhubungan dengan menarik diri

1. Kurang spontan

2. Apatis, ekpresi wajah kurang berseri

3. Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan dirinya

4. Tidak mau komonikasi verbal

5. Mengisolasi diri

6. Kurang sadar dengan lingkungan sekitar

7. Kebutuhan fisiologis terganggu

8. Aktivitas menurun

9. Kurang energi, harga diri rendah, postur tubuh berubah.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Masalah keperawatan yang berubungan dengan hubungan sosial. Diagnosa menurut NANDA :

1. Resiko terjadi perubahan persepsi sensori berhubungan dengan menarik diri

2. Koping keluarga inefektif

3. Koping indifidu inefektif

4. Kesepian berhubungan dengan menarik diri

5. Perubahan proses berfikir

6. Isolasi sosial berhubungan dengan kemampuan hubungan sosial inadekuat

7. Ganggiuan persepsi (harga diri rendah) berhubungan dengan persepsi keluarga nonrealistik dalam berhubungan.

8. Menarik diri berhubungan dengan waham curiga.

9. Kebersihan diri kurang berhubungan dengan kurang energi

10. Gangguan hubungan sosial berhubungan dengan kurangnya perhatian terhadap lingkungan.

11. Menurunya aktivitas motorik berhubungan kurangnya perhatian terhadap lingkungan.

12. Potensial defisit cairan berhubungan dengan tidak mau merawat diri.

13. Gangguan komonikasi verbal

14. Gangguan interaksi sosial berhubungan dengan menarik diri

C. PERENCANAAN

Ada beberapa prinsip rencana asuhan keperawatan dengan klien gangguan hubungan sosial, antara lain :

1. Bina hubungan saling percaya

2. Bantu klien menguraikan kelebihan dan kekurangan interpersonal.

3. Bantu klien membina kembali hubungan interpersonal yang positf / adaptif dan memberikan kepuasan timbal balik :

· Beri penguatan dan kritikan yang positif

· Jangan perhatikan klien saat manipulatif/ekploratif,konfrontasi

· Bertindak sebagai model peran, latih prilaku

· Dengarkan semua kata-kata klien dan jangan menyela saat klien bertanya.

· Berikan penghargaan saat klien dapat berprilaku yang positif

· Hindari ketergantungan klien

· Kembangkan hubungan terapeutik dengan klien “bukan anda”, tetapi perilaku anda yang tidak dapat diterima.

4. Perhatikan kebutuhan ADL klien

5. Libatkan dalam kegiatan ruangan.

6. Ciptakan lingkungan terapeutik

7. Terapi somatic

8. Libatkan keluarga/system pendukung untuk membantu mengatasi masalah klien.

D. PELAKSANAAN

Pelaksanaan sesuai dengan rencana keperawatan yang ada dan dilakukan di lapangan

E. EVALUASI

Klien mengadakan hubungan interpersonal yang efektif, dapat bekerjasama dengan perawat dan keluarga, klien dapat menggunakan sumber koping yang adekuat.

Kep.Jiwa (ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN DELIRIUM)

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA KLIEN DENGAN DELIRIUM

I. KONSEP DASAR

A. Pendahuluan

Psikosa secara sederhana dapat didefinisikan sebai suatu gangguan jiwa dengan kehilangan rasa kenyataan (sense of reality). Keadaa ini dapat digambarkan bahwa psikosa ialah gangguan jiwa yang serius, yang timbuk karena penyebab organik ataupun emosional (fungsional) dan yang menunjukkan ganggua kemampuan berpikir, bereakasi secara emosional, mengingat, berkomunikasi, menafsirkan kenyataan dan bertindak sesuai dengan kenyataan itu, sedemikian rupa sehingga kemampuan untuk memenuhi tuntutan hidup sehari-hari sangat terganggu. Psikosa ditandai oleh perilaku yang regresif, hiudp perasaan tidak sesuai , berkurangnya pengawasan terhadap impuls-impuls serta waham dan halusinasi.

Menninger telah menyebutkan lima sindroma klasik yang menyertai sebagian besar pola psikotik :

1. Perasan sedik, bersalah dan tidak mampu yang mendalam

2. keadaan terangsang yang tidak menentu dan tidak terorganisasi, disertai pembicaraan dan motorilk yang berlebihan

3. regresi ke otisme manerisme pembicaran dan perilaku, isi pikiran yanng berlawanan, acuh tak acuh terhadap harapan sosial.

4. preokupasi yang berwaham, disertai kecurigaan, kecendrungan membela diri atau rasa kebesaran

5. keadaan bingung dan delirium dengan disorientasi dan halusinasi.

B. Pengertian

Delirium adalah sindroma otak organik karena fungsi atau metabolisme otak secara umum atau karena keracunan yan menghambat mnetabolisme otak.

C. Gejala

Gejala utama ialah kesadaran menurun. Kesadaran yang menurun ialah suatu keadaan dengan kemampuan persepsi perhatian dan pemikiran yan berkurang secara keseluruhan (secara kuantitatif).

Gejala-gejala lainnya penderita tidak mampu mengenal orang dan berkomunikasi dengan baik, ada yang bingung atau cemas, gelisah dan panik, adanya klien yan terutama halusinasi dan ada yang hanya berbicara komat-kamit dan inkohern.

Dari gejala-gejala psikiatrik tidak dapat diketahui etiologi penyakit badaniah itu, tetapi perlu dilakukan pemeriksaan intern dan nerologik yang teliti. Gejala tersebut lebih ditentukan oleh keadaan jiwa premorbidnya, mekanisme pembelaaan psikologiknya, keadaan psikososial, sifat bantuan dari keluarga, teman dan petugas kesehatan, struktur sosial serta ciri-ciri kebudayaan sekelilingnya.

D. Psikopatologi

Delirium biasanya hilang bila penyakit badaniah yang menyebabkan sudah sembuh, mungkin sampai kira-kira 1 bulan sesudahnya. Gangguan jiwa yang psikotik atau nonpsikotik yang disebabkan oleh gangguan jaringan fungsi otak. Gangguan fungsi jaringan otak ini dapat disebabkan oleh penyakit badaniah yang terutama mengenai otak (meningoensephalitis, gangguan pembuluh darah ootak, tumur otak dan sebagainya) atau yang terutama di luar otak atau tengkorak (tifus, endometriasis, payah jantung, toxemia kehamilan, intoksikasi dan sebagainya). Bila bagian otak yang terganggu itu luas, maka gangguan dasar mengenai fungsi mental sama saja, tidak tergantung pada penyakit yang menyebabkannya. Jika disebabkan oleh proses yang langsung menyerang otak , bila proses itu sembuh maka gejala-gejalanya tergantung pada besarnya kerusakan yang ditinggalkan gejala-gejala neurologik dan atau gangguan mental dengan gejala utama gangguan intelegensi. Bisa juga didapatkan adanya febris. Terdapat gejala psikiatrik bila sangat mengganggu dapat diberikan neroleptika, terutama yang mempunyai dosis efektif tinggi.

E. Penatalaksanaan

a. Pengobatan etiologik harus sedini mungkin dan di samping faal otak dibantu agar tidak terjadi kerusakan otak yang menetap.

b. Peredaran darah harus diperhatikan (nadi, jantung dan tekanan darah), bila perlu diberi stimulansia.

c. Pemberian cairan harus cukup, sebab tidak jarang terjadi dehidrasi. Hati-hati dengan sedativa dan narkotika (barbiturat, morfin) sebab kadang-kadang tidak menolong, tetapi dapat menimbulkan efek paradoksal, yaitu klien tidak menjadi tenang, tetapi bertambah gelisah.

d. Klien harus dijaga terus, lebih-lebih bila ia sangat gelisah, sebab berbahaya untuk dirinya sendiri (jatuh, lari dan loncat keluar dari jendela dan sebagainya) ataupun untuk orang lain.

e. Dicoba menenangkan klien dengan kata-kata (biarpun kesadarannya menurun) atau dengan kompres es. Klien mungkin lebih tenang bila ia dapat melihat orang atau barang yang ia kenal dari rumah. Sebaiknya kamar jangan terlalu gelap , klien tidak tahan terlalu diisolasi.

f. Terdapat gejala psikiatrik bila sangat mengganggu dapat diberikan neroleptika, terutama yang mempunyai dosis efektif tinggi.

II. ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

1. Identitas

Indentias klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa/latar belakang kebudayaan, status sipil, pendidikan, pekerjaan dan alamat.

2. Keluhan utama

Keluhan utama atau sebab utama yang menyebbkan klien datang berobat (menurut klien dan atau keluarga). Gejala utama adalah kesadaran menurun.

3. Faktor predisposisi

Menemukan gangguan jiwa yang ada sebagai dasar pembuatan diagnosis serta menentukan tingkat gangguan serta menggambarkan struktur kepribadian yang mungkin dapat menerangkan riwayat dan perkembangan gangguan jiwa yang terdapat. Dari gejala-gejala psikiatrik tidak dapat diketahui etiologi penyakit badaniah itu, tetapi perlu dilakukan pemeriksaan intern dan nerologik yang teliti. Gejala tersebut lebih ditentukan oleh keadaan jiwa premorbidnya, mekanisme pembelaaan psikologiknya, keadaan psikososial, sifat bantuan dari keluarga, teman dan petugas kesehatan, struktur sosial serta ciri-ciri kebudayaan sekelilingnya. Gangguan jiwa yang psikotik atau nonpsikotik yang disebabkan oleh gangguan jaringan fungsi otak. Gangguan fungsi jaringan otak ini dapat disebabkan oleh penyakit badaniah yang terutama mengenai otak (meningoensephalitis, gangguan pembuluh darah ootak, tumur otak dan sebagainya) atau yang terutama di luar otak atau tengkorak (tifus, endometriasis, payah jantung, toxemia kehamilan, intoksikasi dan sebagainya).

4. Pemeriksaan fisik

Kesadran yang menurun dan sesudahnya terdapat amnesia. Tensi menurun, takikardia, febris, BB menurun karena nafsu makan yang menurun dan tidak mau makan.

5. Psikososial

a. Genogram Dari hasil penelitian ditemukan kembar monozigot memberi pengaruh lebih tinggi dari kembar dizigot .

b. Konsep diri

· Ganbaran diri, tressor yang menyebabkan berubahnya gambaran diri karena proses patologik penyakit.

· Identitas, bervariasi sesuai dengan tingkat perkembangan individu.

· Peran, transisi peran dapat dari sehat ke sakit, ketidak sesuaian antara satu peran dengan peran yang lain dan peran yang ragu diman aindividu tidak tahun dengan jelas perannya, serta peran berlebihan sementara tidak mempunyai kemmapuan dan sumber yang cukup.

· Ideal diri, keinginann yang tidak sesuai dengan kenyataan dan kemampuan yang ada.

· Harga diri, tidakmampuan dalam mencapai tujuan sehingga klien merasa harga dirinya rendah karena kegagalannya.

c. Hubungan sosial

Berbagai faktor di masyarakat yang membuat seseorang disingkirkan atau kesepian, yang selanjutnya tidak dapat diatasi sehingga timbul akibat berat seperti delusi dan halusinasi. Konsep diri dibentuk oleh pola hubungan sosial khususnya dengan orang yang penting dalam kehidupan individu. Jika hubungan ini tidak sehat maka individu dalam kekosongan internal. Perkembangan hubungan sosial yang tidak adeguat menyebabkan kegagalan individu untuk belajar mempertahankan komunikasi dengan orang lain, akibatnya klien cenderung memisahkan diri dari orang lain dan hanya terlibat dengan pikirannya sendiri yang tidak memerlukan kontrol orang lain. Keadaa ini menimbulkan kesepian, isolasi sosial, hubungan dangkal dan tergantung.

d. Spiritual

Keyakina klien terhadapa agama dan keyakinannya masih kuat.a tetapi tidak atau kurang mampu dalam melaksnakan ibadatnmya sesuai dengan agama dan kepercayaannya.

6. Status mental

a. Penampila klien tidak rapi dan tidak mampu utnuk merawat dirinya sendiri.

b. Pembicaraan keras, cepat dan inkoheren.

c. Aktivitas motorik, Perubahan motorik dapat dinmanifestasikan adanya peningkatan kegiatan motorik, gelisah, impulsif, manerisme, otomatis, steriotipi.

d. Alam perasaan

Klien nampak ketakutan dan putus asa.

e. Afek dan emosi.

Perubahan afek terjadi karena klien berusaha membuat jarak dengan perasaan tertentu karena jika langsung mengalami perasaa tersebut dapat menimbulkan ansietas. Keadaan ini menimbulkan perubahan afek yang digunakan klien untukj melindungi dirinya, karena afek yang telah berubahn memampukan kien mengingkari dampak emosional yang menyakitkan dari lingkungan eksternal. Respon emosional klien mungkin tampak bizar dan tidak sesuai karena datang dari kerangka pikir yang telah berubah. Perubahan afek adalah tumpul, datar, tidak sesuai, berlebihan dan ambivalen.

f. Interaksi selama wawancara

Sikap klien terhadap pemeriksa kurawng kooperatif, kontak mata kurang.

g. Persepsi

Persepsi melibatkan proses berpikir dan pemahaman emosional terhadap suatu obyek. Perubahan persepsi dapat terjadi pada satu atau kebiuh panca indera yaitu penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecapan. Perubahan persepsi dapat ringan, sedang dan berat atau berkepanjangan. Perubahan persepsi yang paling sering ditemukan adalah halusinasi.

h. Proses berpikir

Klien yang terganggu pikirannya sukar berperilaku kohern, tindakannya cenderung berdasarkan penilaian pribadi klien terhadap realitas yang tidak sesuai dengan penilaian yang umum diterima.

Penilaian realitas secara pribadi oleh klien merupakan penilaian subyektif yang dikaitkan dengan orang, benda atau kejadian yang tidak logis.(Pemikiran autistik). Klien tidak menelaah ulang kebenaran realitas. Pemikiran autistik dasar perubahan proses pikir yang dapat dimanifestasikan dengan pemikian primitf, hilangnya asosiasi, pemikiran magis, delusi (waham), perubahan linguistik (memperlihatkan gangguan pola pikir abstrak sehingga tampak klien regresi dan pola pikir yang sempit misalnya ekholali, clang asosiasi dan neologisme.

i. Tingkat kesadaran

Kesadran yang menurun, bingung. Disorientasi waktu, tempat dan orang.

j. Memori

Gangguan daya ingat yang baru saja terjadi )kejadian pada beberapa jam atau hari yang lampau) dan yang sudah lama berselang terjadi (kejadian beberapa tahun yang lalu).

k. Tingkat konsentrasi

Klien tidak mampu berkonsentrasi

l. Kemampuan penilaian

Gangguan ringan dalam penilaian atau keputusan.

7. Kebutuhan klien sehari-hari

a. Tidur, klien sukar tidur karena cemas, gelisah, berbaring atau duduk dan gelisah . Kadang-kadang terbangun tengah malam dan sukar tidur kemabali. Tidurnya mungkin terganggu sepanjang malam, sehingga tidak merasa segar di pagi hari.

b. Selera makan, klien tidak mempunyai selera makan atau makannya hanya sedikit, karea putus asa, merasa tidak berharga, aktivitas terbatas sehingga bisa terjadi penurunan berat badan.

c. Eliminasi

Klien mungkin tergnaggu buang air kecilnya, kadang-kdang lebih sering dari biasanya, karena sukar tidur dan stres. Kadang-kadang dapat terjadi konstipasi, akibat terganggu pola makan.

8. Mekanisme koping

Apabila klien merasa tridak berhasil, kegagalan maka ia akan menetralisir, mengingkari atau meniadakannya dengan mengembangkan berbagai pola koping mekanisme. Ketidak mampuan mengatasi secara konstruktif merupakan faktor penyebab primer terbentuknya pola tiungkah laku patologis. Koping mekanisme yang digunakan seseorang dalam keadaan delerium adalah mengurangi kontak mata, memakai kata-kata yang cepat dan keras (ngomel-ngomel) dan menutup diri.

9. Dampak masalah

a. Individu

· Perilaku, klien muningkin mengbaikan atau mendapat kesulitan dalam melakukan kegiatas sehari-hari seperti kebersihan diri misalnya tidak mau mandi, tidak mau menyisir atau mengganti pakaian.

· Kesejahateraan dan konsep diri, klien merasa kehilangan harga diri, harga diri rendah, merasa tidak berarti, tidak berguna dan putus asa sehingga klien perlu diisolasi.

· Kemadirian , klien kehilangan kemandirian adan hidup ketergantungan pada keluarga atau oorang yang merawat cukup tinggi, sehingga menimbulkan stres fisik.

10. Diagnosa Keperawatan

a. Risiko terhadap penyiksaan pada diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan berespon pada pikiran delusi dan halusinasi.

b. Koping individu yang tidak efektif berhubungan dengan ketidakmampuan cara mengekspresikan secara konstruktif.

c. Perubahahn proses berpikir berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mempercayai orang

d. Risiko terjadi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang, status emoosional yang meningkat.

e. Kesukaran komunikasi verbal berhubungan dengan pola komunikasi yang tak logis atau inkohern dan efek samping obat-obatan, tekanan bicara dan hiperaktivitas.

f. Kurangnya interaksi sosial (isolasi sosial) berhubungan dengan sistem penbdukung yang tidak adequat.

g. Kurangnya perawatan diri berhubugan dengan kemauan yang menurun

h. Perubahan pola tidur berhubungan dengan hiperaktivitas, respon tubuh pada halusinasi.

i. Ketidaktahuan keluarga dan klien tentang efek samping obat antipsikotik berhubungan dengan kurangnya informasi.

B. Rencana Tindakan

a. Risiko terhadap penyiksaan pada diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan berespon pada pikiran delusi dan halusinasi.

Batasan kriteria :

Sasaran jangka pendek :

Dalam 2 minggu klien dapat mengenal tanda-tanda peningkatan kegelisahan dan melaprkan pada perwat agasr dapat diberikan intervensi sesuai kebutuhan.

Sasaran jangka panjang :

Klien tidak akan membahayakan diri, orang lain dan lingkungan selama di rumah sakit.

INTERVENSI

RASIONAL

1. Pertahankan agar lingkungan klien pada tingkat stimulaus yang rendah (penyinaran rendah, sedikit orang, dekorasi yang sederhana dan tingakat kebisingan yang rendah)

2. Ciptakan lingkungan psikososial :

· sikap perawat yang bersahabat, penuh perhatian, lembuh dan hangat)

· Bina hubungan saling percaya (menyapa klien dengan rama memanggil nama klien, jujur , tepat janji, empati dan menghargai.

· Tunjukkan perwat yang bertanggung jawab

3. Observasi secara ketat perilaku klien (setiap 15 menit)

4. Kembangkan orientasi kenyataan :

· Bantu kien untuk mengenal persepsinya

· Beri umpan balik tentang perilaku klien tanpa menyokong atau membantah kondoisinya

· Beri kesempatan untuk mengungkapkan persepsi an daya orientasi

5. Lindungi klien dan keluarga dari bahaya halusinasi :

· Kajiu halusinasi klien

· Lakukan tindakan pengawasan ketat, upayakan tidak melakukan pengikatan.

6. Tingkatkan peran serta keluarga pada tiap tahap perawatan dan jelaskan prinsip-prinsip tindakan pada halusinasi.

7. Berikan obat-obatan antipsikotik sesuai dengan program terapi (pantau keefektifan dan efek samping obat).

1. Tingkat ansietas atau gelisah akan meningkat dalam lingkungan yang penuh stimulus.

2. Lingkungan psikososial yang terapeutik akan menstimulasi kemampuan perasaan kenyataan.

3. Observasi ketat merupakan hal yang penting, karena dengan demikian intervensi yang tepat dapat diberikan segera dan untuk selalu memastikan bahwa kien berada dalam keadaan aman

4. Klien perlu dikembangkan kemampuannya untuk menilai realita secara adequat agar klien dapat beradaptasi dengan lingkungan.Klien yang berada dalam keadaan gelisah, bingung, klien tidak menggunakan benda-benda tersebut untuk membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

5. Klien halusinasi pada faase berat tidak dapat mengontrol perilakunya. Lingkungan yang aman dan pengawasan yang tepat dapat mencegah cedera.

6. Klien yang sudah dapat mengontrol halusinasinya perlu sokongan keluarga untuk mempertahnkannya.

7. Obat ini dipakai untuk mengendalikan psikosis dan mengurangi tanda-tanda agitasi.

b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang, status emosional yang meningkat.

Batasan kriteria :

Penurunan berat badan, konjunctiva dan membran mukosa pucat, turgor kulit jelek, ketidakseimbangan elktrolit dan kelemahan)

Sasaran jangka pendek :

Klien dapat mencapai pertambahan 0,9 kg t hari kemudian

Hasil laboratorium elektrolit sserum klien akan kembali dalam batas normal dalam 1 minggu

Sasaran jangka panjang :

Klien tidak memperlihatkan tanda-tanda /gejala malnutrisi saat pulang.

INTERVENSI

RASIONAL

1. Monitor masukan, haluaran dan jumlah kalori sesuai kebutuhan.

2. timbang berat badan setiap pagi sebelum bangun

3. Jelaskan pentingnya nutrisi yang cukup bagi kesehatan dan proses penyembuhan.

4. Kolaborasi

· Dengan ahli gizi untuk menyediakan makanan dalam porsi yang cukup sesuai dengan kebutuhan

· Pemberian cairan perparenteral (IV-line)

· Pantau hasil laboraotirum (serum elektrolit)

5. Sertakan keluarga dalam memnuhi kebutuhan sehari-hari (makan dan kebutuhan fisiologis lainnya)

1. Informasi ini penting untuk membuat pengkajian nutrisi yang akurat dan mempertahankan keamanan klien.

2. Kehilangan berat badan merupakan informasi penting untuk mengethui perkembangan status nutrisi klien.

Klien mungkin tidak memiliki pengetahuan yang cukup atau akurat berkenaan dengan kontribusi nutrisi yang baik untuk kesehatan.

4. Kolaborasi :

· Klien lebih suka menghabiskan makan yang disukai oleh klien.

· Cairan infus diberikan pada klien yang tidak, kurang dalam mengintake makanan.

· Serrum elektrolit yang normal menunjukkan adanya homestasis dalam tubuh.

5. Perawat bersama keluarga harus memperhatikan pemenuhan kebutuhan secara adequat.

c. Kurangnya interaksi sosial (isolasi sosial) berhubungan dengan sistem penbdukung yang tidak adequat.

Batasan kriteria :

Kurang rasa percaya pada orang lain, sukar berinteraksi dengan orang lain, komnuikasi yang tidak realistik, kontak mata kurang, berpikir tentang sesuatu menurut pikirannya sendiri, afek emosi yang dangkal.

Sasaran jangka pendek :

Klien siap masuk dalam terapi aktivitas ditemani oleh seorang perawat yang dipercayai dalam 1 minggu.

Sasaran jangka panjang :

Klien dapat secara sukarela meluangkan waktu bersama klien lainnya dan perawat dalam aktivitas kelompok di unit rawat inap.

INTERVENSI

RASIONAL

1. Ciptakan lingkungan terapeutik :

- bina hubungan saling percaya ((menyapa klien dengan rama memanggil nama klien, jujur , tepat janji, empati dan menghargai).

- tunjukkan perawat yang bertanggung jawab

- tingkatkan kontak klien dengan lingkungan sosial secara bertahap

2. Perlihatkan penguatan positif pada klien.

Temani klien untuk memperlihatkan dukungan selama aktivitas kelompok yang mungkin mnerupakan hal yang sukar bagi klien.

3. Orientasikan klien pada waktu, tempat dan orang.

4. Berikan obat anti psikotik sesuai dengan program terapi.

1. Lingkungan fisik dan psikososial yang terapeutik akan menstimulasi kemmapuan klien terhadap kenyataan.

2. hal ini akan membuat klien merasa menjado orang yang berguna.

3. kesadran diri yang meningkat dalam hubungannya dengan lingkungan waktu, tempat dan orang.

4. Obat ini dipakai untuk mengendalikan psikosis dan mengurangi tanda-tanda agitasi

d. Kurangnya perawatan diri berhubugan dengan kemauan yang menurun

Batasan kriteria :

Kemauan yang kurang untuk membersihkan tubuh, defekasi, be3rkemih dan kurang minat dalam berpakaian yang rapi.

Sasaran jangka pendek :

Klien dapat mengatakan keinginan untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari dalam 1 minggu

Sasaran jangka panjang :

Klien ampu melakukan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri dan mendemosntrasikan suatu keinginan untuk melakukannya.

INTERVENSI

RASIONAL

1. Dukung klien untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari sesuai dengan tingkat kemampuan kien.

2. Dukung kemandirina klien, tetapi beri bantuan kien saat kurang mampu melakukan beberapa kegiatan.

3. Berikan pengakuan dan penghargaan positif untuk kemampuan mandiri.

4. Perlihatkan secara konkrit, bagaimana melakukan kegiatan yang menurut kien sulit untuk dilakukaknya.

1. Keberhasilan menampilkan kemandirian dalam melakukan suatu aktivitas akan meningkatkan harga diri.

2. Kenyamanan dan keamanan klien merupakan priotoritas dalam keperawatan.

3. Penguatan positif akan menignkatakan harga diri dan mendukung terjadinya pengulangan perilaku yang diharapkan.

4. Karena berlaku pikiran yang konkrit, penjelasan harus diberikan sesuai tingkat pengetian yang nyata.

e. Ketidaktahuan keluarga dan klien tentang efek samping obat antipsikotik berhubungan dengan kurangnya informasi.

Batasan kriteria :

Adanya pertanyaan kurangnya pengetahuan, permintaaan untuk mendaptkan informasi dan mengastakan adanya permaslah yang dialami kien.

Sasaran jangka pendek :

Klien dapat mengatakan efek terhadap tubuh yang diikuti dengan implemetasi rencana pengjaran.

Sasaran jangka panjang :

Klien dapat mengatan pentingnya mengetahui dan kerja sama dalam memantau gejala dan tanda efek samping obat.

INTERVENSI

RASIONAL

1. Pantau tanda-tanda vital

2. Tetaplah bersama klien ketika minum obat antipsikotik

3. Amati klien akan adanya EPS, 4. Pantau keluaran urine,dan glukosa urine

4. Beritahu klien bahwa dapat terjadi perubahan yang berkaitandengan fungsi seksual dan menstruasi.

1. Hipotensi ortostatik mungikn terjadi pada pemakain obat antipsikotik, Pemeriksaan tekanan darah dalam posisi berbaring, dudujk dan berdiri.

2. Beberapa klien mungkin menyembusnyikan oabt-obat tersebut.

3. distonia akut (spame lidah, wajah, leher dan punggung), akatisia (gelisah, tidak dapat duduk dengantenag, mengetuk-negetukan kaki,pseudoparkinsonisme (tremor otot, rifgiditas, berjalan dengan menyeret kaki) dan diskinesia tardif (mengecapkan bibir, menjulurkan lidah dan gerakan mengunyah yang konstan).

4. Wanita dapat mempunyai periode menstruasi yang tidak teratus atau amenorhea dan pria mungkin mengalmi impotens atau ginekomastik.

PERAWATAN KATETER

PERAWATAN KATETER

Perawatan kateter adalah suatu tindakan keperawatan dalam memelihara kateter dengan antiseptik untuk membersihkan ujung uretra dan selang kateter bagian luar serta mempertahankan kepatenan posisi kateter

Tujuan:

  1. Menjaga kebersihan saluran kencing
  2. Mempertahankan kepatenan (fiksasi) kateter
  3. Mencegah terjadinya infeksi
  4. Mengendalikan infeksi

Persiapan alat dan bahan:

Meja/trolly yang berisi:

  1. Sarung tangan steril
  2. Pengalas
  3. Bengkok
  4. Lidi waten steril
  5. Kapas steril
  6. Kasa steril
  7. Antiseptic (Bethadin)
  8. Aquadest / air hangat
  9. Korentang
  10. Plester
  11. Gunting
  12. Bensin
  13. Pinset
  14. Kantung sampah

Pelaksanaan:

  1. Siapkan alat dan bahan
  2. Beritahu pasien maksud dan tujuan tindakan
  3. Dekatkan alat dan bahan yang sudah disiapkan
  4. Pasang tirai, gorden yang ada
  5. Cuci tangan
  6. Oles bensin pada plester dan buka dengan pinset
  7. Buka balutan pada kateter
  8. Pakai sarung tangan steril
  9. Perhatikan kebersihan dan tanda-tanda infeksi dari ujung penis serta kateter
  10. Oles ujung uretra dan kateter memakai kapas steril yang telah dibasahi dengan aquadest / air hangat dengan arah menjauhi uretra
  11. Oles ujung uretra dan kateter memakai lidi waten + bethadin dengan arah menjauhi uretra
  12. Balut ujung penis dan kateter dengan kasa steril kemudian plester
  13. Posisikan kateter ke arah perut dan plester
  14. Rapikan klien dan berikan posisi yang nyaman bagi pasien
  15. Kembalikan alat ke tempatnya
  16. Cuci tangan
  17. Dokumentasikan tindakan

Daftar Pustaka

1. Smeltzer, C. Suzanne, Bare, G. Brenda. Brunner and Suddarth’s Text Book of Medical Surgical Nursing. 8th vol 2 alih bahasa Kuncoro, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin Asih. Jakarta: EGC; 2001

2. Perry, Anne, Griffin, Potter A. Patricia. Pocket Guide to Basic Skills and Procedures. Alih bahasa: Monica Ester, Jakarta: EGC; 2000

Kep.Medikal Bedah (Asuhan keperawatan pada klien dengan HERNIA INGUINALIS)

HERNIA INGUINALIS

a. Pengertian

Hernia Inguinalis adalah Sutu penonjolan kandungan ruangan tubuh melalui dinding yang dalam keadaannormal tertutup. ( Richard E, 1992 )

Hernia Inguinalis adalah prolaps sebagian usus ke dalam anulus inginalis di atas kantong skrotum, disebabkan oleh kelemahan atau kegagalan menutup yang bersifat kongenital. ( Cecily L. Betz, 1997)

b. Etiologi

Hernia Inguinalis di sebabkan oleh :

a. Kelemahan atau kegagalan menutup yang bersifat kongenital

b. Anomali Kongenital

c. Sebab yang di dapat

d. Adanya prosesus vaginalis yang terbuka

e. Peninggian tekanan di dalam rongga perut

f. Kelemahan dinding perut karena usia

g. Anulus inguinalis yang cukup lama

c. Manifestasi Klinis

1. Menangis terus

2. muntah

3. Distensi Abdoman

4. Feses berdarah

5. Nyeri

6. Benjolan yang hilang timbul di paha yang muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin, atau megedan dan menghilang setelah berbaring

7. Gelisah, kadang-kadang perut kembung

8. Konstipasi

9. Tidak ada flatus

d. Patologi dan patogenesis

Selama tahap-tahap akhir perkembangan prosesus vaginalis janin, suatu penonjolan peritoneum yang berasal dari cincin interna terbentang ke arah medial serta menuruni setiap kanalis inguinalis. Setelahmeninggalkan kanalis tersebut pada cincin eksterna, maka prosesus tersebut pada pria akan berbelok ke bawah memasuki skrotum dan akan membungkus testis yang sedang berkembang. Lumen biasanya menutup dengan sempurna sebelum lahir kecuali pada bagian yang membungkus testis. Bagian tersebut akan tetap tinggal sebagai suatu kantung potensial tunika vaginalis. Pada wanita prosesus tersebut terbentang mulai dari cincin eksterna hingga ke dalam labia mayora. Bagian proximal prosesus vaginalis dapat mengalami kegagalan penutupan sehingga membentuk suatu kentung hernia dimana viskus abdomaen dapat memasukinya. Bagian yang tetap terbuka itu dapat membantang ke bawah kadang-kadang hingga ke dalam kantung testis dan dapat menyatu dengan tunuka vaginalis sehingga bersama-sama membentuk suatu hernia lengkap.

Hernia inguinalis terutama sering di temukan pada bayi prematur. Di duga karena lebih sedikitnya waktu perkembangna di dalam kandungan serta lebih sedikitnya waktu bagi penutupan seluruh penutupan seluruh prosesus tersebut. Jika testis gagal untuk turun ( Kriptorkoid ), maka biasanya terdapat kantung hernia yang besar karena sesuatu telah menghentikan penurunan testis maupan penutupan prosesus peritoneum tersebut. Anak-anak dengan anomali kongnital terutama yang melibatkan daerah abdoman bagian bawah, pelvis atau perineum seringmempunyai hernia inguinalis sebagai bagian dari kompleks tersebut.